Bogor.
Tah di dinya, ku andika adegkeun eta dayeuh laju ngaranan Bogor sabab bogor teh hartina tunggul kawung
(Di tempat itu, dirikanlah olehmu sebuah kota lalu beri nama Bogor sebab bogor itu artinya pokok enau)
Ari tunggul kawung emang ge euweuh hartina euweuh soteh ceuk nu teu ngarti
(Pokok enau itu memang tak ada artinya terutama,bagi mereka yang tidak paham)
Ari sababna, ngaran mudu Bogor sabab bogor mah dijieun suluh teu daek hurung teu melepes tapi ngelun haseupna teu mahi dipake muput
(Sebabnya harus bernama Bogor? sebab bogor itu dibuat kayu bakar tak mau menyala tapi tidak padam, terus membara asapnya tak cukup untuk "muput")
Tapi amun dijieun tetengger sanggup nungkulan windukuat milangan mangsa
(Tapi kalau dijadikan penyangga rumah mampu melampaui waktu sanggup melintasi zaman)
Amun kadupak matak borok nu ngadupakna moal geuwat cageur tah inyana
(Kalau tersenggol bisa membuat koreng yang menyenggolnya membuat koreng yang lama sembuhnya)
Amun katajong? mantak bohak nu najongna moal geuwat waras tah cokorna
(Kalau tertendang? bisa melukai yang menendangnya itu kaki akan lama sembuhnya)
Tapi, amun dijieun kekesed? sing nyaraho isukan jaga pageto bakal harudang pating kodongkang nu ngawarah si calutak
(Tapi, kalau dibuat keset? Semuanya harus tahu besok atau lusa bakal bangkit berkeliaran menasehati yang tidak sopan)
Tah kitu! ngaranan ku andika eta dayeuh Dayeuh Bogor!
(Begitulah beri nama olehmu itu kota Kota Bogor)
[Pantun Pa Cilong, "Ngadegna Dayeuh Pajajaran"]
posting kali ini, gue mau cerita tentang Bogor, kota tercintahku...:)
Dahulu kala, ada satu perempuan kecil, yang tak bisa berhenti termangu stiap kali diajak ke Bogor , dia terkagum kagum melihat Kebun Raya yang penuh berbagai jenis pohon dan tanaman, dengan tepi jalan yang penuh orang berjualan macam macam jenis suplir dan pakis, kelinci, bangkuang, talas, dan buah buahan lainnya, terkagum kagum melihat sungai berbatu yang masih mengalir, terkagum kagum melihat rumah rumah tua dari jaman Belanda yang masih terpelihara dengan baik, sehingga tercetus pikiran, satu kali nanti, bila aku besar, aku mau tinggal di Bogor...., tinggal di daerah sejuk yang disekelilingnya masih bisa melihat gunung, rumah tua, pohon tua yang tinggi menjulang, wah pokoke gak bisa ngga harus Bogor....!! (ngotot mode : on..kekeke)
Dan sekarang impian itu sudah tercapai, dengan segala peluh dan usaha dan lain lain (kenyataan nih bukan hiperbola..) atau paling ngga udah hampir tercapai, masih nyicil, tapi hampir lunas, doain aja yaah biar bisa lunas cepet (lho..kekeke..) biar ngga di tempat yang dia mau dulu, tapi agak minggir sedikit, tapi kan paling ngga masih ada tulisan Bogornya (ngotot mode still on, haha..).
Bogor yang sekarang, beda banget sama Bogor yang dulu gue liat, dan kagumi, sekarang Bogor harusnya dikenal sebagai 'kota angkot', karena sejauh jauh mata memandang, yang keliatan itu angkot ijo ijo dengan rute yang tumpang tindih, coba deh sekali kali ke Jembatan Merah, atau ke Sukasari, disitu angkot here, angkot there, angkot everywhere...kekeke..., tapi Kebun Raya dan jembatan merahnya yang terkenal sebagai 'jembatan putus cinta' karena kalau berdua duaan dengan kekasih trus lewat di jembatan itu konon bisa putus,juga terkenal sebagai tempat berkumpulnya arwah arwah penasaran se Jawa Barat (hiii....), Istana Bogor dengan rusa rusanya yang masih penuh misteri sampai sekarang atau museum Zoological dengan rangka ikan paus yang terdampar di Pelabuhan Ratu, atau Taman Topi yang malam jadi tempat nongkrong orang orang yang 'selera punya pria', Stasiun KA yang kalau kita pulang naik kereta terakhir, kita bisa melihat sisi lain kehidupan yang kadang ngga pernah kita bayangkan (sigh...), Lapangan Sempur yang legendaris, tempat orang Bogor jogging tiap hari Minggu, atau tempat bazaar atau tempat pagelaran wayang waktu Bogor ultah, Wisma Batu Tulis yang sempat heboh karena issu harta karun itu, bersebrangan dengan Istana Batu Tulis tempat beristirahat Presiden Soekarno, yang sst..gosipnya nih, nanti makam beliau akan dipindahkan dari Blitar ke Istana Batu Tulis ini sesuai permintaan terakhirnya, tempat pembuatan gong terkenal (dan konon satu satunya di daerah Jawa Barat) di Pancasan atau Terminal Baranangsiang yang konon kalo malam ganti nama jadi Baranangmalam, kekeke...j/k,semuaaa deh masih tetap disitu, juga rumah rumah tua dari jaman Belanda juga masih ada, ditambah mall mall, ditambah beratus ratus atau mungkin lebih orang orang yang berpikiran seperti gue, untuk punya rumah di Bogor, mungkin itu juga yang bikin Bogor jadi sumpek, hehe...
Ngga tau kenapa yah, tiap kali off kerja, gue balik ke Bogor, kalau hari kerja, gue kost di daerah sekitar daerah Kuningan, dan waktu naik kereta, biasanya sih Pakuan, trus pas sampai di stasiun Bogor yang ada tulisan 246 m, yang artinya Bogor itu terletak 246m diatas permukaan laut, melihat angkot angkot yang ngetem, gue bisa menghela nafas panjang, trus dengan senyum ngucap sendiri di dalam hati, "I'm home", hehehe...
Dan suatu kali gue dapet keterangan tentang kota Bogor waktu iseng iseng lagi browsing, itu yang gue cantumin diatas, selama ini kan orang bilang Bogor itu dari kata Buitenzorg, tapi ternyata keterangannya seperti ini iho :
"Pantun di atas menjadi dasar yang paling kuat tentang kenapa nama kota itu dinamakan "Bogor". Seperti diketahui, sampai saat ini ada empat pendapat tentang asal nama Bogor :
1. Berasal dari salah ucap orang Sunda untuk "Buitenzorg" yaitu nama resmi Bogor pada masa penjajahan Belanda.
2. Berasal dari "Baghar atau baqar" yang berarti sapi karena di dalam Kebun Raya ada sebuah patung sapi.
3. Berasal dari kata "Bokor" yaitu sejenis bakul logam tanpa alasan yang jelas.
4. Asli bernama Bogor yang artinya "tunggul kawung" (enau atau aren).
Pendapat bahwa Bogor berasal dari "buitenzorg" adalah dugaan intelek yang mengira lidah orang Sunda sedemikian kakunya dengan mengambil perumpamaan melesetnya "Batavia" menjadi "Batawi". Akan tetapi bila kita perhatikan bagaimana orang Sunda mengucapkan "sikenhes" untuk "ziekenhuis" (rumah sakit) atau "bes" untuk "buis" (pipa) atau "boreh" untuk "boreg" (jaminan), maka berdasarkan gejala bahasa tersebut, seharusnya orang Sunda melafalkan "buitenzorg" menjadi "betensoreh". Jadi dugaan "buitenzorg" menjadi Bogor terlalu dikira-kira.
Pendapat kedua ("baghar atau baqar") berdasarkan kenyataan adanya pengaruh bahasa Arab di daerah sekitar Pekojan. Orang Sunda akrab dengan bahasa Arab lewat agama Islam, akan tetapi belum pernah ada bunyi BA dari bahasa Arab menjadi BO. Selain itu, dugaannya mengandung kelemahan dari segi urutan waktu. Kata Bogor telah ada sebelum Kebun Raya dibuat, sedangkan arca sapi itu berasal dari kolam kuno Kotabaru yang dipindahkan ke dalam Kebun Raya oleh Dr. Frideriech dalam pertengahan abad 19.
Pendapat ketiga (asal kata "bokor") juga mengandung kelemahan karena bokor itu sendiri adalah kata Sunda asli yang keasliannya cukup terjamin. Meskipun demikian, perubahan bunyi "K" menjadi "G" tanpa menimbulkan perubahan arti dapat ditemui pada kata "kumasep" dan "angkeuhan" yang sering diucapkan menjadi "gumasep" (merasa cakep/centil) dan "anggeuhan"(tempat bersandar atau bernaung). Jadi bisa saja Bogor memang berasal dari Bokor. Akan tetapi, tak ada seorangpun yang biasa mengartikan "Bogor" sama dengan "bokor".
Pendapat keempat kita temukan dalam pantun Bogor yang sudah disebutkan di awal tulisan. Dalam lakon itu dikemukakan bahwa kata "bogor" berarti "tunggul kawung". Keadaan yang sama dapat ditemui pada nama tempat "Tunggilis" yang terletak di tepi jalan antara Cileungsi dengan Jonggol. Kata "tunggilis" berarti tunggul atau pokok pinang yang secara kiasan diartikan menyendiri atau hidup sebatang kara.Di Jawa Barat banyak tempat bernama Bogor, seperti yang bisa ditemukan di Sumedang dan Garut. Demikian pula di Jawa Tengah, sebagaimana dicatat Prof. Veth dalam buku Java. Dengan demikian memang agak sulit menerima
teori "buitenzorg", "baghar" dan "bokor".Bogor selain berarti tunggul enau, juga berarti daging pohon kawung yang biasa dijadikan sagu (di daerah Bekasi). Dalam bahasa Jawa "Bogor" berati pohon enau dan kata kerja "dibogor" berarti disadap. Dalam bahasa Jawa Kuno, "pabogoran" berarti kebun enau. Dalam bahasa Sunda umum, menurut Coolsma, "Bogor" berarti "droogetapte kawoeng"(pohon enau yang telah habis disadap) atau "bladerlooze en taklooze boom" (pohon yang tak berdaun dan tak bercabang). Jadi sama dengan pengertian kata "pugur" atau "pogor". Akan tetapi dalam bahasa Sunda "muguran" dengan "mogoran" berbeda arti. Yang pertama dikenakan kepada pohon yang mulai berjatuhan daunnya karena menua, yang kedua berarti bermalam di rumah wanita dalam makna yang kurang susila. Pendapat desas-desus bahwa Bogor itu berarti "pamogoran" bisa dianggap terlalu iseng.
Nama Bogor dapat ditemui pada sebuah dokumen tertanggal 7 April 1752. Dalam dokumen tersebut tercantum nama Ngabei Raksacandra sebagai "hoofd van de negorij Bogor" (kepala kampung Bogor). Dalam tahun tersebut ibukota Kabupaten Bogor masih berkedudukan di Tanah Baru. Dua tahun kemudian, Bupati Demang Wiranata mengajukan permohonan kepada Gubernur Jacob Mossel agar diizinkan mendirikan rumah tempat tinggal di Sukahati di dekat "Buitenzorg". Kelak karena di depan rumah Bupati Bogor tersebut terdapat sebuah kolam besar (empang), maka nama "Sukahati" diganti menjadi "Empang".
Pada tahun 1752 tersebut, di Kota Bogor belum ada orang asing, kecuali Belanda. Kebun Raya sendiri baru didirikan tahun 1817 sehingga teori "arca sapi" tidak dapat diterima sebagai asal-usul nama Bogor. Letak Kampung Bogor yang awal itu di dalam Kebun Raya. Ada di lokasi tanaman kaktus sekarang. Adapun pasar yang didirikan di kampung tersebut oleh penduduk disebut Pasar Bogor. " atau kalo mau lebih lengkapnya coba klik di ini .
Bogor, yang sekarang sudah hampir tiap sore atau pagi hari hujan, yang disebelin sama orang Jakarta karena istilah 'banjir kiriman dari Bogor', tapi juga tetap dikunjungi setiap wiken , habis gimana yah, panggilan dari 'asinan bogor', 'roti unyil', 'laksa surken', 'toge goreng', 'pisang aroma', dan yang terakhir itu factory outlet yang tersebar di Jl. Pajajaran dan sekitarnya gak bisa ditolak, manaa kukuu..., kekeke..., bikin Bogor semakin sumpek sumempek setiap wiken.
Dan konon, di suatu tempat, di dekat kaki gunung Salak, ada seorang perempuan, yang pernah bercita cita punya rumah di Bogor, sedang menatap hujan yang turun, atau apabila cuaca terang, menatap gunung Salak yang tampak jelas dari jendela kamarnya sedang tersenyum, sambil berkata di dalam hati, "Saya pulang....".
(Di tempat itu, dirikanlah olehmu sebuah kota lalu beri nama Bogor sebab bogor itu artinya pokok enau)
Ari tunggul kawung emang ge euweuh hartina euweuh soteh ceuk nu teu ngarti
(Pokok enau itu memang tak ada artinya terutama,bagi mereka yang tidak paham)
Ari sababna, ngaran mudu Bogor sabab bogor mah dijieun suluh teu daek hurung teu melepes tapi ngelun haseupna teu mahi dipake muput
(Sebabnya harus bernama Bogor? sebab bogor itu dibuat kayu bakar tak mau menyala tapi tidak padam, terus membara asapnya tak cukup untuk "muput")
Tapi amun dijieun tetengger sanggup nungkulan windukuat milangan mangsa
(Tapi kalau dijadikan penyangga rumah mampu melampaui waktu sanggup melintasi zaman)
Amun kadupak matak borok nu ngadupakna moal geuwat cageur tah inyana
(Kalau tersenggol bisa membuat koreng yang menyenggolnya membuat koreng yang lama sembuhnya)
Amun katajong? mantak bohak nu najongna moal geuwat waras tah cokorna
(Kalau tertendang? bisa melukai yang menendangnya itu kaki akan lama sembuhnya)
Tapi, amun dijieun kekesed? sing nyaraho isukan jaga pageto bakal harudang pating kodongkang nu ngawarah si calutak
(Tapi, kalau dibuat keset? Semuanya harus tahu besok atau lusa bakal bangkit berkeliaran menasehati yang tidak sopan)
Tah kitu! ngaranan ku andika eta dayeuh Dayeuh Bogor!
(Begitulah beri nama olehmu itu kota Kota Bogor)
[Pantun Pa Cilong, "Ngadegna Dayeuh Pajajaran"]
posting kali ini, gue mau cerita tentang Bogor, kota tercintahku...:)
Dahulu kala, ada satu perempuan kecil, yang tak bisa berhenti termangu stiap kali diajak ke Bogor , dia terkagum kagum melihat Kebun Raya yang penuh berbagai jenis pohon dan tanaman, dengan tepi jalan yang penuh orang berjualan macam macam jenis suplir dan pakis, kelinci, bangkuang, talas, dan buah buahan lainnya, terkagum kagum melihat sungai berbatu yang masih mengalir, terkagum kagum melihat rumah rumah tua dari jaman Belanda yang masih terpelihara dengan baik, sehingga tercetus pikiran, satu kali nanti, bila aku besar, aku mau tinggal di Bogor...., tinggal di daerah sejuk yang disekelilingnya masih bisa melihat gunung, rumah tua, pohon tua yang tinggi menjulang, wah pokoke gak bisa ngga harus Bogor....!! (ngotot mode : on..kekeke)
Dan sekarang impian itu sudah tercapai, dengan segala peluh dan usaha dan lain lain (kenyataan nih bukan hiperbola..) atau paling ngga udah hampir tercapai, masih nyicil, tapi hampir lunas, doain aja yaah biar bisa lunas cepet (lho..kekeke..) biar ngga di tempat yang dia mau dulu, tapi agak minggir sedikit, tapi kan paling ngga masih ada tulisan Bogornya (ngotot mode still on, haha..).
Bogor yang sekarang, beda banget sama Bogor yang dulu gue liat, dan kagumi, sekarang Bogor harusnya dikenal sebagai 'kota angkot', karena sejauh jauh mata memandang, yang keliatan itu angkot ijo ijo dengan rute yang tumpang tindih, coba deh sekali kali ke Jembatan Merah, atau ke Sukasari, disitu angkot here, angkot there, angkot everywhere...kekeke..., tapi Kebun Raya dan jembatan merahnya yang terkenal sebagai 'jembatan putus cinta' karena kalau berdua duaan dengan kekasih trus lewat di jembatan itu konon bisa putus,juga terkenal sebagai tempat berkumpulnya arwah arwah penasaran se Jawa Barat (hiii....), Istana Bogor dengan rusa rusanya yang masih penuh misteri sampai sekarang atau museum Zoological dengan rangka ikan paus yang terdampar di Pelabuhan Ratu, atau Taman Topi yang malam jadi tempat nongkrong orang orang yang 'selera punya pria', Stasiun KA yang kalau kita pulang naik kereta terakhir, kita bisa melihat sisi lain kehidupan yang kadang ngga pernah kita bayangkan (sigh...), Lapangan Sempur yang legendaris, tempat orang Bogor jogging tiap hari Minggu, atau tempat bazaar atau tempat pagelaran wayang waktu Bogor ultah, Wisma Batu Tulis yang sempat heboh karena issu harta karun itu, bersebrangan dengan Istana Batu Tulis tempat beristirahat Presiden Soekarno, yang sst..gosipnya nih, nanti makam beliau akan dipindahkan dari Blitar ke Istana Batu Tulis ini sesuai permintaan terakhirnya, tempat pembuatan gong terkenal (dan konon satu satunya di daerah Jawa Barat) di Pancasan atau Terminal Baranangsiang yang konon kalo malam ganti nama jadi Baranangmalam, kekeke...j/k,semuaaa deh masih tetap disitu, juga rumah rumah tua dari jaman Belanda juga masih ada, ditambah mall mall, ditambah beratus ratus atau mungkin lebih orang orang yang berpikiran seperti gue, untuk punya rumah di Bogor, mungkin itu juga yang bikin Bogor jadi sumpek, hehe...
Ngga tau kenapa yah, tiap kali off kerja, gue balik ke Bogor, kalau hari kerja, gue kost di daerah sekitar daerah Kuningan, dan waktu naik kereta, biasanya sih Pakuan, trus pas sampai di stasiun Bogor yang ada tulisan 246 m, yang artinya Bogor itu terletak 246m diatas permukaan laut, melihat angkot angkot yang ngetem, gue bisa menghela nafas panjang, trus dengan senyum ngucap sendiri di dalam hati, "I'm home", hehehe...
Dan suatu kali gue dapet keterangan tentang kota Bogor waktu iseng iseng lagi browsing, itu yang gue cantumin diatas, selama ini kan orang bilang Bogor itu dari kata Buitenzorg, tapi ternyata keterangannya seperti ini iho :
"Pantun di atas menjadi dasar yang paling kuat tentang kenapa nama kota itu dinamakan "Bogor". Seperti diketahui, sampai saat ini ada empat pendapat tentang asal nama Bogor :
1. Berasal dari salah ucap orang Sunda untuk "Buitenzorg" yaitu nama resmi Bogor pada masa penjajahan Belanda.
2. Berasal dari "Baghar atau baqar" yang berarti sapi karena di dalam Kebun Raya ada sebuah patung sapi.
3. Berasal dari kata "Bokor" yaitu sejenis bakul logam tanpa alasan yang jelas.
4. Asli bernama Bogor yang artinya "tunggul kawung" (enau atau aren).
Pendapat bahwa Bogor berasal dari "buitenzorg" adalah dugaan intelek yang mengira lidah orang Sunda sedemikian kakunya dengan mengambil perumpamaan melesetnya "Batavia" menjadi "Batawi". Akan tetapi bila kita perhatikan bagaimana orang Sunda mengucapkan "sikenhes" untuk "ziekenhuis" (rumah sakit) atau "bes" untuk "buis" (pipa) atau "boreh" untuk "boreg" (jaminan), maka berdasarkan gejala bahasa tersebut, seharusnya orang Sunda melafalkan "buitenzorg" menjadi "betensoreh". Jadi dugaan "buitenzorg" menjadi Bogor terlalu dikira-kira.
Pendapat kedua ("baghar atau baqar") berdasarkan kenyataan adanya pengaruh bahasa Arab di daerah sekitar Pekojan. Orang Sunda akrab dengan bahasa Arab lewat agama Islam, akan tetapi belum pernah ada bunyi BA dari bahasa Arab menjadi BO. Selain itu, dugaannya mengandung kelemahan dari segi urutan waktu. Kata Bogor telah ada sebelum Kebun Raya dibuat, sedangkan arca sapi itu berasal dari kolam kuno Kotabaru yang dipindahkan ke dalam Kebun Raya oleh Dr. Frideriech dalam pertengahan abad 19.
Pendapat ketiga (asal kata "bokor") juga mengandung kelemahan karena bokor itu sendiri adalah kata Sunda asli yang keasliannya cukup terjamin. Meskipun demikian, perubahan bunyi "K" menjadi "G" tanpa menimbulkan perubahan arti dapat ditemui pada kata "kumasep" dan "angkeuhan" yang sering diucapkan menjadi "gumasep" (merasa cakep/centil) dan "anggeuhan"(tempat bersandar atau bernaung). Jadi bisa saja Bogor memang berasal dari Bokor. Akan tetapi, tak ada seorangpun yang biasa mengartikan "Bogor" sama dengan "bokor".
Pendapat keempat kita temukan dalam pantun Bogor yang sudah disebutkan di awal tulisan. Dalam lakon itu dikemukakan bahwa kata "bogor" berarti "tunggul kawung". Keadaan yang sama dapat ditemui pada nama tempat "Tunggilis" yang terletak di tepi jalan antara Cileungsi dengan Jonggol. Kata "tunggilis" berarti tunggul atau pokok pinang yang secara kiasan diartikan menyendiri atau hidup sebatang kara.Di Jawa Barat banyak tempat bernama Bogor, seperti yang bisa ditemukan di Sumedang dan Garut. Demikian pula di Jawa Tengah, sebagaimana dicatat Prof. Veth dalam buku Java. Dengan demikian memang agak sulit menerima
teori "buitenzorg", "baghar" dan "bokor".Bogor selain berarti tunggul enau, juga berarti daging pohon kawung yang biasa dijadikan sagu (di daerah Bekasi). Dalam bahasa Jawa "Bogor" berati pohon enau dan kata kerja "dibogor" berarti disadap. Dalam bahasa Jawa Kuno, "pabogoran" berarti kebun enau. Dalam bahasa Sunda umum, menurut Coolsma, "Bogor" berarti "droogetapte kawoeng"(pohon enau yang telah habis disadap) atau "bladerlooze en taklooze boom" (pohon yang tak berdaun dan tak bercabang). Jadi sama dengan pengertian kata "pugur" atau "pogor". Akan tetapi dalam bahasa Sunda "muguran" dengan "mogoran" berbeda arti. Yang pertama dikenakan kepada pohon yang mulai berjatuhan daunnya karena menua, yang kedua berarti bermalam di rumah wanita dalam makna yang kurang susila. Pendapat desas-desus bahwa Bogor itu berarti "pamogoran" bisa dianggap terlalu iseng.
Nama Bogor dapat ditemui pada sebuah dokumen tertanggal 7 April 1752. Dalam dokumen tersebut tercantum nama Ngabei Raksacandra sebagai "hoofd van de negorij Bogor" (kepala kampung Bogor). Dalam tahun tersebut ibukota Kabupaten Bogor masih berkedudukan di Tanah Baru. Dua tahun kemudian, Bupati Demang Wiranata mengajukan permohonan kepada Gubernur Jacob Mossel agar diizinkan mendirikan rumah tempat tinggal di Sukahati di dekat "Buitenzorg". Kelak karena di depan rumah Bupati Bogor tersebut terdapat sebuah kolam besar (empang), maka nama "Sukahati" diganti menjadi "Empang".
Pada tahun 1752 tersebut, di Kota Bogor belum ada orang asing, kecuali Belanda. Kebun Raya sendiri baru didirikan tahun 1817 sehingga teori "arca sapi" tidak dapat diterima sebagai asal-usul nama Bogor. Letak Kampung Bogor yang awal itu di dalam Kebun Raya. Ada di lokasi tanaman kaktus sekarang. Adapun pasar yang didirikan di kampung tersebut oleh penduduk disebut Pasar Bogor. " atau kalo mau lebih lengkapnya coba klik di ini .
Bogor, yang sekarang sudah hampir tiap sore atau pagi hari hujan, yang disebelin sama orang Jakarta karena istilah 'banjir kiriman dari Bogor', tapi juga tetap dikunjungi setiap wiken , habis gimana yah, panggilan dari 'asinan bogor', 'roti unyil', 'laksa surken', 'toge goreng', 'pisang aroma', dan yang terakhir itu factory outlet yang tersebar di Jl. Pajajaran dan sekitarnya gak bisa ditolak, manaa kukuu..., kekeke..., bikin Bogor semakin sumpek sumempek setiap wiken.
Dan konon, di suatu tempat, di dekat kaki gunung Salak, ada seorang perempuan, yang pernah bercita cita punya rumah di Bogor, sedang menatap hujan yang turun, atau apabila cuaca terang, menatap gunung Salak yang tampak jelas dari jendela kamarnya sedang tersenyum, sambil berkata di dalam hati, "Saya pulang....".
