Yogyakarta, here I come...
Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama
Suasana Jogja
Di persimpangan langkahku terhenti
Ramai kaki lima
Menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi
Seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri
Ditelan deru kotamu ...
Walau kini kau t’lah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Ijinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi
Bila hati mulai sepi tanpa terobati
song Jogjakarta by : KLa Project.
yeap..Rabu pagi gue akan pergi ke kota kecil ini, kota yang denyut kehidupannya begitu perlahan, bahkan waktu seakan tidak pernah bergerak, kota yang orangnya begitu menikmati hidup, kota yang buat gue memiliki nuansa lain biar sudah berkali kali datang, kota yang memiliki banyak banget kenangan baik yang manis ataupun pahit
ada suatu keperluan yang membuat gue pergi ke tempat ini, hehe..kota yang selalu bikin gue minder karena ngga ngerti bahasanya, pernah sok tau ngerti, tapi akhirnya selalu jadi bahan tertawaan kalau diingat ingat lagi, dulu waktu bawa tour anak sekolah, mereka tinggal di hotel Rama Shinta di daerah Patangpuluhan, selesai chek in, iseng2 nanya, apa artinya patangpuluhan, empat puluh, kata receptionisnya, oooo, kata gue sambil ngangguk2 sok tau, trus ngumpul sama guide2 lain di malioboro, biasanya lesehan di depan matahari, pulang sudah hampir subuh, dah rada tengleng juga, rencana naik beca, tapi gue lupa nama daerahnya, mateek gue, pikir gue gitu waktu itu, hehe..yang diingat cuma empat puluhnya, jadi bilang gini ke tukang becaknya, karena dia juga ngga gitu ngerti bahasa Indonesia, "Pak, empat puluh jawanya opo?"( ancur gak sih bahasa gue, haha..) trus sambil ngerenyitin dahinya, bapak itu jawab gini, "Patangpuluh", "NAAAAAAAAAAH...ituuu pak, hotel Ramashinta di patangpuluhan", bapak itu ngeliatin gue kayak orang bingung, tapi akhirnya sampai juga ke hotel, pyuuhh....klo ngga rasanya gue bisa tidur di emperan malioboro, huahaha...atau waktu gue sama temen gue ngambek sewaktu diundang makan sama ibunya temen di YK itu, karena begitu disajikan makanan, beliau bilang gini, "Iki jangan, iki jangan, iki jangan, iki sambel" sambil nunjuk ke satu satu masakan yang disajikan, giliran yang enak dibilang jangan, giliran sambel aja boleh, pikir gue gitu waktu itu, sambil cemberut, gue bisik2 sama temen gue yang gak ngerti bahasa Jawa juga, "Balik aja yuk, masak kita cuma boleh makan sambel aja", temen gue itu dah ngangguk2, sementara tuan rumah dan ibunya memandangi kami dengan muka bingung, "Kog nda dimakan?" kata ibunya, akhirnya dengan hati setengah ngambek, gue bilanglah , dan mereka berdua tertawa terbahak bahak sampai keluar airmata, setelah puas tertawa baru mereka menjelaskan, dan gantian gue dan temen satu lagi yang tertawa walau dalam hati merintih karena maluuuuu, hahaha...hhhhh..Bu Sastro, masih kuingat enaknya masakanmu, semoga ada waktu untuk ketemu nanti yaa...
Rencana ingin tinggal di hotel Peti Mas, di daerah Dagen, guesthouse kecil yang sangat2 'rumah' buat gue, kamar dengan dinding bata merahnya, dimana pernah ada airmata tumpah disana, showernya, kolam renang kecilnya, burung burung yang berkicau, kursi2 kayu, wangi melati dan irisan daun pandan yang seakan mengambang di udara, teh nasgitelnya,tembang Jawa sayup2 yang bisa membuat perasaan seakan melayang, walau tidak tau apa artinya, Yen in tawang ono lintang... waaaah...rasanya jadi pingin cepat cepat sampai sana...
rencana ingin mengunjungi lagi Keraton, yang dulunya berupa rawa bernama Umbul Pacetokan, melihat lagi emban2 yang dengan setia melayani sultannya, ingin lagi mendengar guide lokalnya berujar, "Ledis en jentelmen, welkum to de sultanat kingdum of jogja, dis is de balai menganti, wer de sultan eksepting his ges" (dibacanya dengan logat Jawa yang kental yah :D ), juga berjalan lagi menyusuri Taman Sari, memasuki pasar burung yang mengelilinginya, atau menyusuri gang gang kecil tempat pelukis kain batik tinggal, atau melihat hijaunya pohon2 pinus yang mengelilingi kawasan Kaliurang sambil memandangi si gagah Merapi di kejauhan.
rencana duduk lagi di tepi jalan dekat museum Jogja kembali, melihat anak2 joksin dan qsruh beraksi dengan motor2 mereka...
rencana ingin berjalan jalan lagi sepanjang jalan Malioboro, menikmati kehidupan malam, barang2 souvenir yang dijajakan, masih tersimpan rapi gantungan kunci kulit bertuliskan nama, atau gelas tiup dari tahun2 silam, kangen duduk mencangkung kaki di ujung jalan Malioboro, memandangi gedung2 tua yang ada disekitarnya, kangen nasi goreng di benteng timur yang dimasak dengan arang itu, kangen nasi kuning di emperan kantor pos untuk sarapan pagi, kangen gurihnya nasi liwet emperan yang diambil dengan tangan, duuh ngga nyangka begini kangennya gue pada kota ini...
Jadi, rasanya perjalanan kali ini akan amat sangat menarik, apalagi sudah ada senjata digcam, jadi Yogya, biarkan aku melepaskan rinduku padamu, ijinkan aku pulang lagi ke kotamu...
sampai ketemu Senin depan.., jaga hati dan kesehatan, sampai jumpa..
