pertama tama, gue musti ngaku, kalau ternyata gue itu pemalass.., hehe... foto2 sudah ada, tapi malas buat downloadnya, tapi janji (moga2 bukan cuma sekedar janji, hehe..) minggu depan sudah ada deeh...
Jam 09.30 WIB, sampai di bandara Adisutjipto, Yogyakarta, suasananya masih sama dengan yang terakhir diingat, ketika melangkah ke lobby, banyak tawaran taxi baik yang resmi maupun tak resmi menyapa, kucari seorang di antara keramaian orang, dan ituu dia, Dewa, salah seorang sobat di kota ini sedang memamerkan cengiran khasnya, pelukan akrab, cipika cipiki, ayunan tangan yang mengambil tasku, dan seperti biasa sikutan kecil sebagai salam pembuka, "Piye kabaree jengg..", begitu sapanya, dan seperti biasa, dengan sok tau gue menjawab, " Apik waee mass...", hehe.., terdengar tertawanya, "Dah bisa jowo toh jeng? ", "Yaa..seeutik eutik mah tiasa kang.." , bengong sebentar dia, lalu ngakak lagi...senang bener ketemu lagi dengan manusia satu ini.
Menuju Peti mas, guest house ini semakin berkembang, jaraknya yang tidak begitu jauh rasanya cepat, sempat tercenung sebentar di halaman depan, melihat sarang sarang burung yang bergantungan, pohon pohon palem diantara kursi kursi kayu, aaah..masih tempat yang sama. Pak Yanto sempat terbelalak ketika melihatku, "Oalaaah mbaaak, lama betul ya nda pernah kesini lagi, apa kabarnyaa", keramahan yang menyenangkan, jabatan tangan yang erat, dan tak lupa senyuman terlintas. Dewa menunggu di pendopo, ketika aku berjalan pelan, menyusuri lorong kecil, seperti biasa, aku lebih memilih kamar yang terletak di lantai atas, berhenti di kamar 24, membuka pintu, dan melihat dinding kamar, dengan susunan batu merahnya, senangnya bisa kembali ke sini lagi, bisikku dalam hati...
Selesai mandi, menjalankan tugas pertama dulu, survey hotel dan restauran untuk group mendatang, data mulai dicatat, deal harga juga mulai dijalankan, sambil makan siang tentunya, hehe..,sempat senyum kecil melihat Dewa yang sedang makan, orang kurus gitu kog makannya banyak juga, hehe..
Sore hampir menjelang sewaktu tugas selesai, melangkah menuju pusat kota, julukan Yogya sebagai kota seribu sepeda rasanya harus diganti dengan kota sejuta motor, blum lagi becak becak yang masih saja mengayuh pelan, tidak perduli kendaraan bermotor dibelakangnya menekan klakson sekeras kerasnya, cuek beybeeh..., hehe...
Hari yang sibuk setelah itu, malamnya sempat mengunjungi Bu Sastro, ibu jangan ini jangan itu, sebelumnya sempat telpon untuk memberitahu, dan waktu sampai di rumahnya, beliau terlihat masih awet muda, sambil melirik beliau bilang gini, "Wis nda ngambek kan, kalau dijangan jangani sekarang? ", hehe...aaah ibuuu..ngeledek ajaa nihh, ditemani makan bersama putra bungsunya, teman gue yang itu sudah mengikuti suaminya ke seberang pulau, cuma bisa setahun sekali pulang, ngobrol ngobrol, tak terasa malam, dan minta pamit pulang, beliau memelukku, sambil berpesan untuk mampir lagi sebelum pulang nanti, dan aku mengangguk .
Jumat pagi, jam setengah 9 sudah ada di halaman parkir Borobudur, niat ingin naik sampai ke atas, biasanya kan kalau lagi bawa tour, tamu2 itu diserah terimakan ke guide lokal, kalau ngga mereka teriak: gak bagi2 rejeki; sambil kadang2 aja diikutin, tapi sekali ini , gue sendirian, lalu berjalan melawan arah jarum jam, sambil mengamati relief relief yang terukir, konon Borobudur itu terdiri dari 4 tingkatan hidup manusia, tingkat terbawahnya yang melukiskan kisah hidup manusia sekelam kelamnya terkubur menjadi dasar candi Budha itu, tingkatan keduanya Kamadhatu masih juga melukiskan tentang perbuatan dunia yang masih dikuasai oleh kama atau nafsu (keinginan) yang rendah, lalu naik ke tingkat Rupadhatu, dimana dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari ikatan nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk, yaitu dunianya orang suci dan merupakan 'alam antara' yang memisahkan 'alam bawah' (kamadhatu) dengan 'alam atas' (arupadhatu) dan akhirnya tingkat Arupadhatu atau nirwana, tempat para Buddha bersemayam, dimana kebebasan mutlak telah tercapai, bebas dari keinginan dan bebas dari ikatan bentuk dan rupa. Karena itu bagian Arupadhatu itu digambarkan polos, tidak ber-relief.
Udara waktu itu sangat bersih, si gagah Merapi dan Merbabu tampak sebagai latar belakang, sempat tercenung sebentar memandangi apa yang ada, dan ketika puas memetik gambar, sambil menyimpan sebagian di ingatan sepanjang waktu masih mengijinkan, waktu melangkah turun melalui anak tangga batu, terdengar kericik air dibawahnya mengingat candi ini terletak di persilangan sungai Progo dan Elo, turun,sambil mikir, orang dulu itu segede apa yah? anak tangga kog tinggi2 gini, pasti besar2 kalau mengingat mereka membangun candi ini tanpa memakai alat2 berat, hmm.... menuju ke warung durian, tempat mbak Tur, langganan kalau lagi bawa tour, tempat mangkalnya guide dan supir supir, minum es sirsak, sambil melihat lihat dagangan, hmm...pingin bawa pulang cobek, susah nyari cobek yang bagus di jkt kan? tapi malesnya ituuu, hehe...berat...:D
waktu itu sempat ribut di Borobudur, pembersihan pedagang asongan, kamtib atau apalah namanya sibuk adu mulut dengan pedagang2 asongan itu, sedang gue duduk tenang2 sambil minum es sirsak, teriak2 mereka, lah ngga mboten ngertos je aku, waktu tanya mbak Tur baru ngeh kalo mereka lagi brantem, hehehe...kalau soal pembersihan, sebagai guide, gue agak setuju juga, karena akhir2 ini sudah mulai rawan disana, tamu yang diuber uber, trus pemaksaan halus, sampai pengamen yang menodongkan pisau kalau habis nyanyi ngga dikasi uang, biar bagaimana ini kan tempat wisata, orang mau berlibur, bukannya mau diuber uber seperti artis dimintai tanda tangan :D
Sabtu pagi, Prambanan, hehe..niat banget yah gue, Candi Loro Jonggrang ini juga antik sendiri, kalau sempat kesana, perhatikan deh batu2nya, disitu kita bisa lihat kalau sistim permainan lego yang ada sekarang itu ternyata udah ada dari jaman dulu, itu sistim yang mereka pakai untuk memasang batu2 itu, kembali ke candi pusat yang ada di tengah2nya, candi Syiwa, melihat lihat sendiri, enak juga ternyata, gak usah mikirin tamu atau apa, hehe.., sambil tidak lupa menengok candi yang ada paling kanan, dekat jalan keluar, yang kalau kita masuk ke dalamnya, terdapat relief Kamasutra melingkar..yaa siapa tau ada style baru, kekeke...
disini waktu selesai, duduk di sebuah warung kecil punya ibu2 yang sudah tua, ada kejadian lucu lagi, haus kan, jadi gue pesan minuman, "Bu, Spritenya satu yang dingin", ibu itu mengangguk, lalu mengambil botol 7up, membuka, lalu dituang ke kantong plastik, lalu disodorkan ke gue, "Lho, saya kan pesan Sprite buu..bukan 7up", pas gue bilang gitu, ibu itu cuma hhhhh..."Sami mawon", katanya, lhaaa..hahahaha...iya deh, sama beningnya yah buu...:))
Pulang, trus malamnya kelilingan Malioboro, mungkin lebih tepatnya menyusuri, barang2 yang dijual, ngga banyak beda, cuma pas kebetulan malam minggu, jadi lumayan ramai juga, gak minat liat mall-nya, jd cuma berhenti di depan kantor gubernur, duduk uncang2 kaki, sambil motret.
Kesimpulannya, perjalanannya cukup seru, hehe.., enak juga udah lama gak jalan sendiri spt itu, mau lagi ah kapan2..:D