<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/4124261?origin\x3dhttp://minyak-kayuputih.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Ja ja ja

I don't know what I'm becoming. But I know for sure , U wouldn't like me when I'm angry

Tuesday, July 27, 2004

Nyaaam nyaaammm....

Nahh posting kali ini isinya makanan2 sepanjang perjalanan, mulai dari India sampai Bangkok, berhubung digcam ilang kan, foto2 yang ada disini dari hasil googling :p

India :
makanan India rata2 sama bahannya, sayuran, nasi, kentang, bedanya cuma di bumbu, kadang masakan dibumbui susu juga, minyak samin, dan rempah2nya, tapi yang sempet gue cobain antara lain ini :

Mangulosi
ini terbuat dari yoghurt + mangga, di juice together (tsaah..togetherr..kekekee) di dinginkan di tumpukan es, sampai agak mengeras seperti es krim, bayangkan...minum ini di udara yang panas, rasanya..? hmmmmmmmmmmmm...:p

yoghurt India: campuran antara yoghurt, kismis, ketimun, cumin dan daun mint.


Nepal area :
Makanan khas mereka itu momo, semacam bakpau gitu, bisa isi daging, bisa isi sayuran, sayangnya cuma mereka ngga ada istilah nyocol sambel, hehe..padahal bisa lebih seru deh rasanya, tapi untungnya di ransel ada sambel sachet, kekekee...

nah ini namanya Khukura re pyaj tareko alias kari ayam bawang, rasanya gak beda jauh dari kari ayam, cuma dengan rempah yang terasa banget, musti sedia air minum yang banyak karena chili powdernya suka bikin cekukan :d

ini Samosa, pastel isi sayur, kulitnya terbuat dari kentang, digoreng garing, sambelnya hijau, menurut gue sih gak cocok, jadi teeeuteeup sambel sachet beraksi :))

ini Pulao, nasi goreng ala Nepal, isinya cacahan daging ayam, sayur2an, rasanya? boljuk..:)

Lhasa :


naaaaah ini Rasbari, kue yang gue makan di warung itu, terbuat dari mentega, bubuk roti dan ditaburi gula halus

butter tea, ada yang asin, dan yang manis, yang manisnya mirip teh susu , waktu pertama minum, rasanya aneh, alis gue sempet kriting, hehe..tp lama2 rasanya enak juga, bisa bikin badan terasa hangat :)

Burfi atau milk cakes, biasanya dibuat dari cardamom, keju ricotta, ghee, tapi bisa juga dibuat dari macam2 seperti buah badam, kelapa, kurma, kenari dll gitu, tapi yang paling enak, yang keju, rasanya seperti cheese cake, slurrpp..

Bangkok :

Waktu jalan2, sempat lihat orang jualan di pinggir jalan, kesannya memang kotor, tapi di Bkk, standard kebersihan diawasi sama pemerintah (katanya...:d), tapi apa salahnya sih coba2 ya nda ?

Makanan khas Bangkok bukannya di Siam Square atau Discovery Center, tapi di Chatuchak dan Soi Tonglo, kalau haus, jangan ragu duduk di pinggir jalan, sambil menyisip Singha beer deh :d

antara lain seperti ini :
ini Sai Krok alias susis bumbu ala Thai, biasanya dibuat dari daging sapi atau babi dicampur dengan ketan, jahe cincang, lada dan garan, biasanya dibakar trus disajikan dengan sayur2an gitu.




nah ini jajanan segala rupa, yummy kann..??

Khanom Buang ato Crispy Pancakes, bentuknya sama seperti tacos, pancakes ini dioles krim kelapa dulu, baru diisi. Isinya ada yang manis, parutan kelapa dan dadar tipis atau yang isi asin yang isinya parutan kelapa dan cincangan daun bawang :d

Naaaaah ini the last but not least : gorengan serangga.

Sebelum pergi, gue sempet baca2 via internet, dan yang ini sangat menarik buat gue, dan berniat mencoba klo bisa, dan akhirnya, lagi jalan2,eh ketemu satu ibu dengan penggorengan besarnya, dan basi2 logam yang isinya serangga goreng :p

ini rod fai duan atau ulat bambu, gak jorok dong? kan makannya bambu :d, coba satu sambi tutup mata, kekeke...whuemm..enak ! Gurih, garing, gak meletus sperti yang gue bayangin, kering garing gitu

ini belalang goreng, pernah denger sih klo di Lampung jadi makanan, selain digoreng juga dibikin rempeyek, jadi mari kita coba, tutup mata, garing, rasanya, seperti teri goreng garing :)

ini ulat sutra yang ada di dalam kepompong setelah serat sutranya diambil, ulat sutra makannya kan daun murbei, ambil satu, coba, garing dan lebih gurih dari ulat bambu, hehe..

nah ini yang paling serem menurut gue, kumbang air, makanya dimakan paling belakangan hehe, yang jual ngajarin caranya makan, musti dicopot dulu cangkang belakangnya, baru dimakan, rasanya..kriuk2, dan gurih..

Jadi deh, gue jalan sambil nyemilin serangga..hehe
# balik ke atas#

Monday, July 26, 2004

Perjalanan 5

Hari 12. Lhasa - Kunming.

Jam 6, semua tamu sudah siap di lobby dengan barang2 terakhirnya, yalah, yang ngga perlu udah di kirim balik semua. Land cruiser jemput, masih lengkap dengan Mike, Davey, Jordan, Shirook dan Made, ke airport. Sampai di airport, doa2 deh gue, tapi udara cerah, perjalanan lancar, jadi gak ada alasan buat flight delay deh. Pamit sama kawan2 mountain guides, catet2 email buat tetap keep in touch, dan selesai perjalanan Lhasa.

Siang sampai di Kunming airport, temperature rata2 disini antara 15-25'C, local time : 1 jam lebih cepat dari Jkt.

Sebenarnya ini cuma akan jadi transit aja, harusnya memang ke Chengdu dan Kunming, tapi berhubung kota2 ini terlanda banjir, akhirnya diputuskan untuk membatalkan perjalanan ke tempat2 wisatanya, gue kuciwaa deh, padahal kan mau ke horti expo ituuw :(
pas datang itu, hujan terus, guidenya Liang Shi menghibur, kata dia hujan penyambut tamu, oo yeeaaah...?? kekeke..dan kurang ajarnya hari ini connecting flight ke Bkk penuh semua, jadi mau nda mau harus semalam dulu di Kunming baru bisa ke Bkk deh.

Dari gunung2, masuk Kunming rasanya aneh banget, Kunming sendiri ngga beda banyak dari Jakarta, daerah kotanya penuh juga dengan gedung2 tinggi, sementara Kunming adalah ibu kota provinsi Yunnan yang berbatasan dengan Myanmar, Laos dan Vietnam, kotanya bagus dan cukup bersih, dengan ketinggian 1.891m diatas permukaan laut, kota ini dikelilingi gunung2 di tiga sisinya, sementara sisi yang lain menghadap ke danau Dianchi sehingga kota ini terkenal dengan sebutan 'Spring City'.

Sampai di hotel, check in, dan istirahat deh, tapi at least enak juga tidur di kasur :p

Hari 13. Kunming - Bangkok.

Selesai b'fast, balik airport lagi, dengan delay sekitar 4 jam sajaahh akhirnya terbang juga ke Bkk, sampai disana, bis sudah nunggu, dan acara pertama chek in hotel dulu. Trus seperti biasa, acara selanjutnya adalah acara bebas. Tamu2 gue udah gak asing dengan Bangkok, jadi mereka kebanyakan telp teman2nya sendiri, trus ketemuan, gue jalan2 di daerah sekitar hotel. Jajan serangga goreng dan pancake isi sayur, yang nanti gue ceritain di postingan lain. Jalan di tengah keramaian gini, gue jadi kangen sama suasana waktu tidur memandang bintang deh...

Hari 14. Bangkok - Jakarta

Akhirnya, setelah makan siang, kumpul lagi di hotel, siap2in barang yang akan dibawa pulang, trus ke airport deh. Nunggu flight ke jakarta, gue jadi ingat 14 hari lalu juga ada disini tapi perjalanan masih panjang, sekarang sudah waktunya pulang, ayoo pulang ...

selesai cerita jalan2.

Oya, pesannya 'pak Tile van Lhasa' kejadian ternyata, beliau kan mesan klo ketemu orang yang lagi digrundengin (yaelaa bahasa gue, kekeke...) harus senyum, dan ternyata bener memang, di airport, waktu lagi beramah tamah dengan tamu2 gue, ada seseorang yang berdiri disitu memandangi, dan waktu dia tersenyum, gue bales tersenyum, dan gak tau kenapa, rasanya memang sejuk di hati :p

# balik ke atas#

Saturday, July 24, 2004

Perjalanan 4

Petualangan kali ini, tadinya gue pikir bakalan berat, di pikiran gue mendaki gunung gitu, bersalju pula, mana bisa tanpa persiapan yang benar2 gitu, eh pas diperjelas, ternyata mendakinya paling 2 jam, sementara untuk pindah dari tempat ke tempatnya, memakai land cruiser, lega deh gue, nah udah lama gak pernah naik gunung lagi, tiba2 harus naik gunung salju, bijimanaalah naseb awak kekeke..., jd inget satu temen, pernah ditanya apa dia suka kegiatan naik gunung, dan dengan full yakin dia cuma jawab gini, "Satu2nya yang gue dengan niat naik adalah elevator", hahahaa...dasar anak mall...(colek2 yg brasa aah...:p )

Hari 7.Drive Lhasa - Gyantse (3950m) - Shigatse (3900m)- 312 km.
Berangkat jam 5 pagi, 5 land cruiser siap di depan hotel, barang2 lain ditinggal, yg dibawa cuma baju untuk selama di perjalanan, jaket, snow boots dan keperluan pribadi lainnya. Tiap landcruiser lengkap dengan driver dan mountain guide, jadi ada 5 mountain guide, Mike, Davey, Jordan, Shirook dan Made (ini bukan orang bali, tapi aussie yang tergila2 sama Bali sampai ganti nama jadi Made :p).

Overland tour ini mulai dari Rongbuk valley, melalui Friendship Highway pakai jeep, melalui Khamba La (4794m), jalan pelan, karena tambah lama tambah naik, oksigen tambah tipis, jadi tiap bbrp km, berhenti, turun, gerak2in badan, sambil latihan nafas, phuhh phuhh..phuhhhh....hehe, dari Khamba La, pemandangan menakjubkan, ada danau Yamdrok-tso yang artinya bentangan kaca, dan ditepi jauh sebelah sana terlihat puncak bersalju dari Nazin Kang Sa (7252m), disini tamu2 gue berkesempatan untuk mencoba snow bootsnya, dipandu Made, Mike,Jordan dan Davey, mereka mendaki ke bukit kecil, sampai diatas, foto2, trus turun lagi, hehee.., sementara gue ngobrol sama Shirook lalu perjalanan diteruskan ke sebelah barat melalui lintas gunung Karo La (5045m), pemandangan glacier yang berjatuhan hanya beberapa ratus meter dari jalan menegangkan dan mengagumkan, melalui Gyantse dengan lembah2 dan perkampungan suku Tibet, baru istirahat deh. Di kota Gyantse ini, ada beberapa stupa berkubah warna emas yang dipanggil Gyantse Kumbum, ada hiasan mural tentang Tibetan Buddhism yang sangat bagus, disinilah, mimisan pertama saya terjadi, hehehe.., gak sadar, rasanya cuma meler2, di lap, pas dilihat, ooh mimisan tohh...Made menganjurkan untuk menyiram kepala dengan air, adooh boro2 deh, dingin banget getoo..untungnya gak lama udah berenti.

Setelah istirahat perjalanan dilanjutkan ke Shigatse, kota terbesar ke dua di Tibet, terletak di ketinggian 3800m, memiliki sejarah balik lagi ke 5 abad yang lalu, sekarang Shigatse menjadi pusat pemerintahan, bisnis, budaya dan agama. Populasi penduduk sekitar 70 ribu jiwa, temperatur 9'C, dimana disini musim panasnya cuma 160 hari, sisanya hari2 penuh salju. Disinilah terletak Qomolangma natural reserve, dan juga menjadi border Nepal, jadi kota ini cukup sibuk. Dengan kebudayaan yang kaya, biara2 besar, pemandangan yang sangat menakjubkan, Shigatse menjadi kota tujuan pariwisata paling populer di Tibet.

Sampai di hotel, rasanya udah gak mo makan lagi, rasanya cuma pingin baring, pegel banget, cape banget, malah jadi gak bisa tidur, dan abis mandi air hangat akhirnya terlelap juga deh.

Hari 8. Drive Shigatse (3900m) - Shegar (New Tingri) (4050m) - Rongbuk 321 km.

Bangun jam 5, rasanya badan pada protes dan teriak, "TIDAAAAAAAAAAKKK....." waktu dipaksa bergerak, hehehe..tapi mau nda mau deh,tugas is tugas rite? Mandi, sarapan, selesai sarapan, perjalanan dimulai lagi dengan kembali melalui Friendship Highway, puncak tertinggi disepanjang perjalanan adalah Gyamtso La (5220m), sepanjang perjalanan melalui biara2 terasing, pemukiman kaum nomadic lalu menuju ke Shegar(4050m), baru beristirahat.

Dari Shegar, keluar dari Friendship Highway menuju arah selatan melalui puncak Pang La (5150m) menuju ke lapangan Himalaya, disini sepanjang jalan, pemandangan pegunungan Everest ada di depan mata, berhenti tiap satu jam tempatnya semakin tinggi, ada beberapa tamu yang K.O, hehehe.., tapi semangat mereka masih tinggi kog apalagi mengingat perjalanan besok. Sekali ini tidak ada hotel, yang ada semacam guest house, sore sudah sampai, masih sempat berdiri lagi di tebing, lalu berteriak, dan ajaib, pegal dan rasa bosan jadi berkurang, hahaha..

Hari 9. Everest Base camp (5200m).

Bangun bisa siangan dikit hari ini, sarapan pagi dengan makanan berprotein tinggi, susu yak hangat, udara lumayan hangat , tamu2 sudah siap dengan seragam tempur mereka, ke 5 mountain guide akan mengawal mereka untuk mendaki sampai ke base camp Everest sementara gue? leye leye dong di guest house, hahahaa..
Mereka berangkat dengan jeep, gue jalan2 sendiri, ngga jauh dari guest house ada pasar kecil, tau klo resikonya agak besar, mereka jarang yang bisa inggris dan gue sama sekali gak bisa bahasa mereka, tapi why bother rite ? melihat barang2 yang dijual, umumnya masih kebutuhan sehari hari, cape jalan, masuk ke warung kecil, rata2 yang ada disitu ngeliatin gitu, tapi cueklah, Made sempat ngajarin semalam, untuk mengatupkan kedua telapak tangan di depan dada sebagai salam, jadi gue berbuat itu, terus duduk, nunjuk ke kue, sambil nyengir, well, now I know that my smile is quite sweet, huahahahaha ktularan narsis sama sapa yah gue ini ;) karena si ibu langsung mengambilkan beberapa kue di piring kecil, menuangkan teh hangat manis, dan gue duduk disana sambil makan. Tidak jauh dari tempat gue duduk ada satu bapak tua, sambil merokok dia ngeliatin gue gitu, ketika pandangan bertemu, dia senyum, giginya tinggal beberapa, mengingatkan gue sama pak Tile deh, hehe..gue melakukan salam dengan telapak tangan sambil senyum, "Awa", panggil gue, awa itu artinya ayah atau bapak (lagi2 ini ajaran Made), dia senyum lagi, lalu pindah duduk mendekat, bapak ini bisa inggris, walau hanya kata perkata, dari omongannya, gue menangkap kalau dulunya dia adalah seorang sherpa, ngobrol yang kadang gak nyambung, tapi ada beberapa kalimat bapak itu yang rasanya bakalan gue inget seumur hidup :) lama juga rasanya di warung itu, gue mau balik ke guest house, pamit, dia menahan dengan menekan pundak, lalu dia pergi, gak lama balik dengan selembar chara (selimut dari wool yak), bahu gue diselimutin, trus didorong suruh pergi sambi dia tetap senyum. Bahkan waktu gue mencoba nanya berapa yang harus dibayar untuk kue dan teh, dengan mengulurkan tangan penuh coin fen dan jiao yang dipakai sebagai alat pembayaran, ibu itu cuma tersenyum dan mengibaskan tangannya, hehe...serasa lalat banget deh gue dikibas gitu, hehehehe...

Keluar dari arah warung, banyak anak2 kecil berbaju lusuh mengikuti, jadi gue meraih segenggam fen dari kantong lalu membagikan mereka masing2 satu coin, senyuman anak kecil berambut hitam, berpipi merah walau kotor waktu itu terasa sangat manis :)

Tempat itu ngga besar, jalan lurus ketemu tebing, mau ngga mau ya musti arah balik, jadi di ujung tebing, duduk di tepinya, uncang2 kaki, sambil mengeluarkan sesuatu dari kantong, gue melakukan penguburan udara, melepas semua, dan sewaktu memandangi abu yang terbawa angin, rasanya semua beban juga terlepas..

Jalan pelan2 menuju ke guest house, dengan balutan chara di pundak, dan senyuman.
Selesai acara pribadi, hehe...

Petang waktu tamu2 gue balik dengan wajah yang merah tapi cerah, mereka sibuk menceritakan apa aja yang dialami, ke 5 mountain guide juga kelihatan capek, sedang gue dengan butter teh hangat mendengarkan mereka, malamnya acara api unggun di depan guest house, kebetulan ada bbrp group yang juga baru turun dari pendakian, hari itu benar2 berkesan buat gue.

Hari 10. Drive Rongbuk(5000m) - Tingri (4390m) - Lhasa 490km.

Hari ini berangkat mulai jam 10 pagi, sambil memberi kesempatan tamu2 untuk berkeliling, dan tentu gue gak lupa bawa mereka ke warung kecil kemarin itu, disitu mereka makan kue dan minum teh hangat manis, si ibu masih ingat sama gue, tapi bapak kemarin ngga ada :( baru melanjutkan perjalanan, sekali ini perbekalannya agak berat, karena jarak jauh dan perhitungan tinggi tempat, maka akan ada camping di tengah perjalanan, yaa basecamp darurat deh ceritanya hehe.., masuk lagi jalur Friendship Highway, gak ada lagi berhenti paling setiap 3 jam sekali untuk melemaskan kaki yang kaku, sampai di Tingri, perjalanannya mulai agak susah, melewati daerah kosong diantara Lalung La (5124m) dan Shung La (5200m), karena hari udah mulai gelap, jadi mountain guides memutuskan untuk mulai membangun tenda, jadilah kita camping disini, 10 tenda dibuat melingkari api unggun, teko, panci dkk dikeluarkan dan mulai memasak deh..., makanannya ngga mewah, tapi rasanya gimanaaa gitu, kumpul, sayang ngga ada singkong, huahaha..pasti lebih asik kalo pake singkong bakar :d , terus baru pada balik ke tenda masing2, dan istirahat. Tamu istirahat, dan gue baring menghadap langit, memandangi bintang2, what a life, what a journey...

Selama melihat para mountain guides menyiapkan peralatan dan tenda, gue jadi minder, pekerjaan mereka sangat2 profesional, persiapan yang teliti, peralatan yang begitu efektif, rasanya banyak yang harus gue belajarin lagi dari cara kerja mereka.

Pagi2 bangun, siap2 lanjut lagi perjalanan, semua sampah dan lain2 dikumpulkan di kantong yang sudah disiapkan, selama perjalanan, pemandangan puncak2 Shishapangma, Cho yu, Menlungtse dan Gauri Shankar membuat kata2 terlupakan, terasa banget kalau manusia itu kecilllll banget.

Perjalanan hampir usai, Rongbuk sudah terlewati, sore sampai lagi di guest house, masih ada 1 hari untuk melihat lihat dan beristirahat.


Hari 11. Lhasa

Tamu beristirahat, gue tetep kerja. Dapat berita kalau Chengdu dan Kunming banjir, jadi rasanya perjalanan ke kota2 itu harus dibatalkan, yang artinya tiket dan segala bookingan untuk hotel juga harus dibatalkan dan di re-schedule. Untung beres, cuma tinggal berharap udara akan tetap clear supaya ngga ada flight delay. Barang2 yang dipakai selama treking juga harus dikirim balik duluan ke Jakarta. Sore waktu semua kerjaan selesai, gue berniat balik lagi ke warung kecil itu, tapi waktu sampai disana sudah tutup, besok pagi pasti ngga sempat lagi kesana, jadi mengucap selamat tinggal untuk bapak dan ibu di warung itu dalam hati saja, satu kali gue akan balik lagi.

# balik ke atas#

Wednesday, July 21, 2004

Perjalanan 3

Hari 6. Kathmandu - Lhasa

Jam 5 bangun, setelah semalam ngumpul bareng2 tamu di cafe hotel, bukan cafe sih, restaurant kecil lebih tepatnya :D nyoba minuman khas situ, seperti beer tapi terbuat dari barley, semacam gandum gitu, manis tapi mayan nendang juga sih..hehe, beres2 barang, trus ke lobby untuk ngechek semua luggage, check out, jam stengah 7 local time, brangkat deh ke airport.

Sampai di airport, check in untuk boarding dan visa kunjungannya, Shelley ngasi gue topi bulu, yang ada kelepak buat nutup kupingnya, kata dia, dengan rambut pendek segitu, pasti nanti kedinginan, lagi2 gue bengong liat pesawatnya, yaelaa..baling2 lagi aja, bagusnya cuma cuacanya terang, jadi gak ada alasan untuk delay flight.Penerbangan kurang lebih 2.5 jam untuk sampai ke Lhasa. Selama penerbangan, dari jendela pesawat yang kecil itu, terlihat pemandangan kawasan Himalaya, gunung2 tertutup putih, pokoke c'est magnifique...!

Sesampai di Gongar airport di Lhasa , Mike & Davey dari travel setempat dah jemput, sekali ini gak pake bis, pakai snow land cruiser, 6 mobil semuanya, 2 jam untuk sampai ke hotel, fyuuhh..finally. Gitu sampai hotel gue check barang2 untuk trekking yang sudah lebih dulu dikirim ternyata dah ada, baguss..! awal yang bagus. Oya set local time, Lhasa 1 jam lebih cepat dari Jakarta, temperatur : 8-15'C.

Selesai check in proses dan barang2 sudah masuk kamar masing2, mulailah city tour, ada berbagai kuil Budha termasuk biara Sera yang termasuk biara terbesar di kawasan ini, ada kurang lebih 400 rahib yang tinggal dan belajar agama Budha di biara yang berdinding putih karena kikisan cuaca dan atap warna emasnya, serasa ada di Shaolin temple deh , disini kita 'numpang' makan bersama sama dengan rahib2 itu, makan sayur, tahu, nasi, susu, sehat deh pokoknya, oya, tidak ketinggalan juga Po cha alias butter tea itu :p, selesai makan siang, lanjut lagi perjalanan ke Norbulingka, ini adalah wihara musim panasnya Dalai lama, Norbulingka dikenal juga sebagai Jhokhang temple, tempat ini dianggap tempat pemujaan suci di Tibet, waktu itu kita sempet lihat upacara penerimaan murid2 yang nantinya akan menjadi rahib, mereka digundulin rambutnya, dan diganti pakaiannya menjadi jubah berwarna coklat tanah.Sempat diperlihatkan sekitar 100 rahib berlatih kungfu beramai ramai dilapangan belakang juga, beneran serasa di Shaolin dehh pokoke. Iseng2, gue sempat ngintip, apa iya kepala biksu ada titik2nya seperti di film2, eh ternyata iya dan dari jumlah titik2 yang konon hasil sundutan besi itu, bisa dilihat tingginya kedudukan seorang biksu. Dari Norbulingka, kita menuju ke Barkor, pasar pusat rakyat Lhasa, pasar yang bersih, penjual ada di sisi2 jalan yang terbuat dari batu, barang2 yang dijual rata2 barang kebutuhan sehari hari seperti sayuran, daging, unggas, bunga2an, dan pakaian, tapi ada juga beberapa penjual yang menjual barang2 bekas, tapi antik2, disini gue dapat lonceng kecil yang suaranya bening terbuat dari perunggu, senengnya gue...:D

Perjalanan awal ini gunanya untuk latihan penyesuaian udara, dikarenakan tingginya tempat ini, oksigen jadi tipis, orang bisa jadi cepet cape gejalanya antara lain seperti mabok , trus pusing2, cape, sesak nafas, kehilangan nafsu makan atau gangguan tidur, gejala2 itu baru termasuk yang ringan lho, yang parah bisa muntah darah, gangguan kejiwaan bahkan sampai koma,kalau gejala ringan itu obatnya cuma aspirin, tapi kalau sampai gawat juga, mau gak mau harus keluar ke daerah yang lebih rendah, bagusnya selama perjalanan, gak ada gangguan yang berarti (tsaah..)buat semua, paling cape, paling sedikit uring2an (yang ini gue seh..kekeke ), trus mimisan , itu aja kog, hehe...

Lhasa itu sendiri adalah salah satu distrik di Tibet,luas kawasannya kurang lebih 29km2, dengan sekitar populasi 400 ribu jiwa, tempat ini terkenal sebagai salah satu tempat tertinggi di dunia, terletak di 3.760 meter diatas permukaan Lhasa river, pemandangan disini bisa bikin orang lupa bernafas, hehe..hiperbola banget yah gue, tapi pemandangannya memang bagus, landscape yang unik, dan disini orang bisa merasa berada di tengah sesuatu yang suci gimana getoo , dalam bahasa Tibet, Lhasa artinya 'The Land of the Gods ' atau 'Holy Place", kota ini dibangun pada 633m dibawah pimpinan raja Songtsan Gampo.

Dimulai tahun 80an, baru Tibet bukan lagi merupakan kawasan yang terdiri dari puncak2 gunung bersalju, biara2, sejarah dan mitos semata, puncak2 bersalju itu sekarang jadi semacam tester untuk orang2 yang ingin tahu sampai dimana kekuatan fisik dan jiwanya, Tibet Plateau sendiri berketinggian sekitar 4000m dengan puncak2 gunung dan pemandangan yang spektakular yang menjadi idaman para pendaki, kawasan Himalaya sendiri, ada sekitar 50 puncak gunung dengan ketinggian sekitar 7000m dan 11 puncak dengan ketinggian lebih dari 8000m,yang dikenal dengan istilah 'atap dunia' selain itu juga ada beberapa puncak gunung yang belum tersentuh jelajahan manusia sampai sekarang, konon dengan mendaki ini, manusia bisa lebih menghargai kesadaran jiwanya dengan cara berbaur dengan alam , konon.., ini kesimpulan gue sendiri setelah ngobrol dengan beberapa orang pendaki yang tinggal di hotel yang sama dengan group gue :d

Sewaktu jalan2, kebanyakan toko2 souvenir di Lhasa menjual karpet, trus perhiasan dari batu2 mulia gitu, ada anggur juga yang terbuat dari gandum, lotus salju yang konon bisa jadi obat awet muda, itu yang spesialnya, yang lainnya biasa, seperti sticker, t'shirt, dan gantungan kunci.

Di Lhasa, orang juga memelihara ternak, tapi bukan kerbau, kambing atau sapi melainkan yak, yak itu seperti banteng, tapi gondrong gitu, gedee banget badannya, dengan bulu coklat yang panjang, tanduknya panjang dan kuat, rasanya bisa lumayan juga sih kalo kesenggol, kekeke..binatang ini tadinya liar, tapi dibudidayakan jadi binatang peliharaan untuk komsumsi susu dan daging serta bulunya, kulitnya dipakai buat sepatu, karpet, tas, gue lagi mikir, bikin jaket kulit dari kulit yak ini gimana ya jadinya, jaket kulit dengan bulu2 panjang gitu, huahahaha..apa gak jadi baju gorilla gitu yah, hahaha..

Pakaian khas penduduk sekitar berbeda beda, di daerah tinggi, co/ce rata2 memakai jubah panjang trus topinya dari kulit yak, jadi topi bulu2 gitu spt baju org mongolia di film silat, dan gue kan dikasi Shelley waktu itu, jadi ada org Tibet van bogor waktu itu, tshirt, jaket,boots, jeans dan topi yak, huahahahaha..., sepatu mereka itu boots dari kulit, ada hiasan garis merah buat yg ce, garis hitam buat cowoknya, yang cewek, biasa makai apron putih gitu, anting2, cincin dan gelang2. Sedangkan di dataran rendahnya, co dan ce pakai jaket pendek atau panjang, ceweknya pakai rok panjang garis2 gitu, dan asesori gelang dan cincin, eh ngomong2 sekarang gue punya rok lho, beli kemarin itu, hehehe..nanti dipakainya kalau tahun baru kodok yaa...:p

Makanan sehari hari mereka itu nasi, jagung, dan gandum. Jagung dan gandumnya digiling dan dibuat jadi semacam bubur gitu, selain itu ada momo, bentuknya paduan antara bapau dan pastel, isinya macam2, bisa daging, bisa sayur juga, dan rasanya enaaaakk...:p
Minumannya stabil, teh dan kopi, cuma tehnya teh susu, tapi lama2 dibiasain untuk minum, rasanya jadi enak juga , badan jadi hangat, cuma di tenggorokan masih suka terasa menteganya gitu :p

Rumah2 mereka rata2 bertingkat dua atau 3, berbentuk segitiga, kayu dengan atap bambu atau jerami, tingkat ke dua atau ketiga biasanya untuk tempat tinggal, yang tingkat pertama untuk ternak, rata2 mereka menganut monogami dalam perkawinan, yaa adalah satu dua yang melenceng. Sebagian masih percaya ilmu gaib, sebagian penganut Lamaism (Tibetan Budhism), sistim penguburan mereka 4 macam, penguburan air, penguburan tanah, penguburan udara dan kremasi, rata2 memakai sistim kalender Tibet untuk festival2 keagamaan yang diselenggarakan.

Bahasa mereka kalau didengar banyak nada sengaunya, gue sempat ngelihat folk show mereka, mengelilingi api unggun, nyanyi, dan menari, tariannya lucu deh, hehee, simpel dan dinamis gitu gerakannya

Selesai keliling dan sampai di hotel, makan malam, dan tidur, besok waktunya bertualanggg...

Oya, gue sempat duduk di bagian belakang hotel, dibawahnya lembah sedalam dalamnya, sepi, gelap, berdiri di pinggir terus teriak sekeras kerasnya, lega deh sekarang....:d

next posting : perjalanan melewati gunung dan lembah..

bersambung
# balik ke atas#

Tuesday, July 20, 2004

Perjalanan 2

Hari 4. Delhi - Kathmandu

Selesai b'fast, chek luggage semua, karena pindah hotel dan pindah kawasan, gak boleh ada yang ketinggalan, beres, baru deh naik bis lagi ke airport, kali ini kita harus nerusin perjalanan ke Kathmandu, pas sampai di airport, tamu dan gue berpamitan sama Jay, yaeelaa...berlinang air mata getoo sih si Jay, kekekee...dasaarr..!!gue stengah bengong gitu liat pesawatnya, masih pakai yang baling2 gitu coy, hahahaha..ja ja ja, 25 orang penumpang tamu gue dan gue, sisanya beberapa orang lain, deg2an juga, terbang gak stabil gitu, tapi yaa dijalanin aja, hehe..

Sampai di Tribhuvan airport,ini satu2nya airport di Kathmandu, gak ada kursi, bule2 dengan backpack duduk di lantai, crowded,kumuh dah pokoke, petugas airport mundar mandir dengan lagak rese gitu, iseng2 gue tanya sama salah satu bule yang ngakunya dari Belgia, dia bilang udah 2 malam nginep di airport, karena pesawatnya belum bisa terbang gara2 cuaca yang belum mengijinkan, weeeks, bisa gituu seh, pikir gue waktu itu,
oya, set local time, 1 jam lebih cepat dari jakarta, temperatur 20-25'C, sempet nunggu guide lokal dan bisnya datang, tapi akhirnya beres juga :D

Sekali ini guide lokalnya namanya Shelley, bule Aussie yang nikah dengan orang Kathmandu, langsung city tour ke Durbar Square,Freak street dan Budhanilkatha, kotanya gak gitu besar, tapi rapi, pemandangan kanan kiri banyak pohon, teraturlah gitu pokoknya.

Durbar Square sendiri terletak di pusat kota Kathmandu, banyak temple Budha disini, atap2,pintu dan jendela yang berukir, yang kebanyakan adalah bangunan tua yang selamat dari gempa bumi besar tahun 1933 yang lalu, bangunan yang lain kebanyakan sudah dibangun kembali, tapi sayangnya ngga semua mengikuti bentuk bangunan asalnya.
Tempat ini diperkirakan dibangun abad ke 12, buat gue sangat sangaaaat menarik, kota tua, dengan rickshaw yang mundar mandir sana sini, wihara wihara dengan warnanya yang menarik, penjual tepi jalan yang berjualan souvenir untuk para pendatang, on the way, kita melewati Lonceng raksasa yang kalau dibunyikan dipercaya bisa ngusir roh2 jahat,bunyinya bening banget, jauh mengalun ke udara.., Jaganath Temple yang terkenal dengan ukiran2 erotisnya,huekeke..lumayan buat nambah2 ilmu :)) ada juga patung dewa Kala bertangan 6 yang gedee banget, dan Taleju temple yang cuma dibuka setahun sekali sewaktu festival Dasain.

Freak Street
Waktu tahun 1960 -1970, tempat ini terkenal sebagai pusat hippies , nama sebenarnya dari tempat ini adalah Jochne, tapi sejak awal 1970, lebih dikenal dengan nama Freak Street,daya tarik kota ini sangat besar, jalan2 yang terbuat dari batu, harumnya setanggi, anak2 kecil yang bermain lingkaran doa, hotel2 murah seperti di Prawirotaman Yogja, restoran kecil, toko2 yang berjualan alat2 sembahyang, paduan antara glodok dan malioboro, atau seperti Soho, kalau gue hippies, memang ini adalah tempat yang paling cucokk, piss maan..!hehehe..

Budhanilkantha sendiri adalah temple besar, sebagian besar tamu gue penganut agama Budha yang sibuk sendiri jadinya untuk menyempatkan diri bersembahyang di temple itu, gue nyoba untuk ngeramal nasib menggunakan burung yang mengambil ramalan nasib, mau tau isinya? gini 'Berjalanlah terus, perjalananmu masih jauh', pas baca gue bilang dalam hati, EMBEEEEEEERRR....kekekekeke

Dari situ check in hotel, hotelnya terletak di tebing gunung gitu, dan dari kamar gue , pemandangan ke arah gunung2 yang mengelilingi Kathmandu terbuka luas, huhuhu...jadi inget cameraaa guee :((

Hari 5. Kathmandu

Habis b'fast, naik bis lagi deh, kali ini Shelley ditemani oleh suaminya Ashook, tujuan pagi ini mengunjungi kota Patan.

Patan, walau sekarang menjadi distrik Kathmandu, kota ini dulunya adalah pusat dari suatu kerajaan besar, dibandingkan dengan Kathmandu, kota ini lebih sepi, lebih tenteram dan lebih antik, lebih bohemian gitu gayanya, kalau Kathmandu sibuk membangun kotanya, penduduk Patan lebih memilih memperkaya jiwanya, yang mungkin menjelaskan nama lain dari kota ini yaitu Lalitpur yang berarti City of Beauty, di kota ini bisa didengar dentang suara pengrajin logam, Bahal, gerbang kota dijaga oleh sepasang patung singa yang menurut gue seperti lagi nyengir gitu, hehe.., dalam dasa warsa 2 abad, Patan menjadi kota singgahan para expat, organisasi dunia seperti UN dan USAID juga membuka kantornya disini.

Patan ini adalah kota tertua , sempat menjadi pusat budaya Nepal
keanggunan kota tua ini terlihat dari bangunan2 temple dan monumen2 yang seakan bertahan dari waktu, sementara penduduknya sendiri sekarang kebanyakan lebih memilih bangunan modern, kebanyakan mereka menjual kusen jendela dan pintu mereka sebagai barang antik untuk membeli jendela dan pintu modern, sayang yaah..?!

Selesai keliling, trus balik lagi ke arah Kathmandu, menuju ke Swayambhunath dan Boudanath Stupa.

Swayambhunath
Dari kawasan lembah Kathmandu, stupa Swayambunath terlihat sebagai bentuk yang paling menarik perhatian, atapnya yang berwarna putih dan garis keemasan terlihat jelas, sejarah menyebutkan tempat ini sudah menjadi tempat kunjungan umat Budha dari abad ke 5, sekeliling tempat ini adalah telaga bunga lotus yang waktu gue datang sedang bermekaran, putih dan merah muda, bagusssssss banget, dari situlah tempat ini dinamakan Swayambu yang artinya 'Self-Created or Self-Existent'. umat Swayambhunath terdiri dari umat Hindu, Budha Vajrayana dari utara Nepal dan Budha Newari dari kawasan selatan dan pusat Nepal, jadi tempat ini menjadi semacam pusat pemujaan untuk agama Hindu dan Budha, konon setiap pagi, ratusan umat akan menaiki 365 anak tangga menuju ke atas bukit, melewati gerbang dengan dua patung singa itu, lalu melakukan upacara mengelilingi tempat itu, kalau Budha Vajrayana berkeliling searah jarum jam, Budha Newari berlawanan arah jarum jam, di setiap sudut stupa pusat, ada gambar sepasang mata besar, yang merupakan simbol dari segala sudut pandang dari Tuhan, ngga ada bentuk hidung, tapi ada bentuk angka 1 dari abjad Nepali yang melambangkan satu cara untuk mencapai kesempurnaan adalah melalui agama Budha, diatas sepasang mata besar itu, ada gambar mata ketiga, melambangkan kebijaksanaan berpikir, tidak ada bentuk telinga, karena konon Budha tidak berkenan mendengar pujian2 yang disampaikan dalam doa umatnya, hehehe..

Kawasan sekeliling stupa ini penuh dengan bentuk2 lambang Tantrik, lingkaran doa untuk Tibetan Buddhist, lambang2 trimurti, juga ada patung untuk dewi Harati, konon dewi ini melindungi umatnya dari penyakit campak dan penyakit menular lainnya, adanya patung ini melambangkan perpaduan antara agama Budha dan Hindu yang kemudian berkembang menjadi agama Budha yang dianut oleh orang Tibet.

Diatas bukit Swayambunath ada satu temple yang kecil dan jarang dikunjungi, Temple Shantipur, 'Place of Peace", tempat yang selalu merupakan rahasia karena selalu terkunci, ada ruangan bawah tanah yang pada abad ke 8 menjadi tempat meditasi dari Guru besar Tantrik Shantikar Acharya, dari meditasi inilah, umur beliau bisa mencapai ratusan tahun, waktu lembah Nepal mengalami kekeringan,konon Raja Nepal meminta wangsit dari beliau ini setelah ada wangsit, atau mandala istilahnya dibawa keluar oleh raja, ditujukan ke arah langit, dan hujanpun turun, gue sempat masuk ke bagian luar temple ini, ada kesan mistery yang dalam terasa.

Swayambunath Temple ini dikenal juga dengan sebutan Monkey temple, ada ratusan monyet berkeliaran dengan bebas ditempat ini, biasanya para yogi bermeditasi setelah mengisap hashis, hehehe..kebayang..

Di lokasi seputaran Swayambunath juga terlihat temple2 penting lainnya seperti temple Pashupatinath yang merupakan temple untuk Shiwa, Boudanath temple, Changu Narayan, Dakshinkali dan Budhanilkantha, juga ada satu perpustakaan tua yang besar, tempat untuk mencari informasi dan referensi tentang tempat2 suci di Nepal, yang sayangnya tulisannya gue gak ada yang ngerti :(

Boudhanath Stupa/Jarung Kashyor

tempat ini terletak kurang lebih 6 km tenggara Kathmandu, merupakan stupa terbesar di Nepal dalam pengertian tinggi dan luasnya, tempat ini dikelilingi toko toko kecil yang dikelola oleh penduduk lokal, aduh souvenirnya lucu2 banget deh, ada sepatu dari jerami yang biasa kita lihat di film2 silat itu loh, ukiran2 bambu, batu2 alam yang bagus2 berbentuk cincin atau bandul kalung yang kebanyakan dibentuk dalam lambang2 agama Budha. Penduduk lokal di tempat ini kebanyakan orang Tibet, Tamang, Sherpa dan penduduk Newari sendiri.

Disini gue berkesempatan untuk mencoba rasbari kue bulat bulat yang terbuat dari mentega dan gula halus, yang pasangannya adalah po cha alias butter tea, teh yang dicampur mentega yak, sejenis lembu yang dipelihara penduduk disitu, rasanya? hmmm...ya itu, seperti minum teh campur mentega, hehehe.., nanti gue cerita tentang makanan khas di postingan lain aja yah.

bersambung
# balik ke atas#

Monday, July 19, 2004

Perjalanan

Trip kali ini kesannya seperti mengalami sendiri petualangan Tintin, hehehe.., waktu mau berangkat, rambut gue baru dipotong, cepak lagi seperti dulu, enak, gak usah nyisir, diacak acak malah, kekekeke..

bagasi peserta udah beres, boarding pass dah ditangan, naik pesawat, heree wee goo...

sampai di Nong Ngu Hao International Airport yang baru di Bangkok, ngegiring peserta ke lounge,tinggal nunggu connecting flight ke Delhi deh, hahaha..gue suka lucu deh klo gini, serasa jadi gembala bebek, bagus gak pake bawa remote kayak film Warkop, hahahahahaa..

Setelah nunggu sekitar 2 jam, baru boarding pesawat yang ke Delhi, check peserta, semua sudah aman damai tenteram sentosa di tempatnya masing2, gue ke belakang deh, misah sendiri, pasang headset, baca buku, gak lama trus tidur, hehehe...

sampai di Indira Gandhi Int'l airport, sudah hampir sore, suruh semua peserta robah waktu, jadi 2 jam lebih lambat dari Jakarta, bis sudah nunggu, jelasin kiri kanan passing sides, ke hotel, check in, dan rasanya pas sampai di kamar, panjang beneeeer hari ini, but Im here, atcha atcha atcha...* sambil geleng2 kepala, kekekekeke...

Hari ke 2.Delhi - Agra

Kaget pas bangun, matahari dah terang banget, dan berhubung kamar gue terletak di lantai 23, jadi tirai jendela gak ditutup, ceritanya habis mandi kemarin itu, gue duduk di deket jendela memandangi lampu2 getoo lho, hehehe.., liat jam, baru jam 6, mandi, beresin barang, trus turun, tamu2 gue udah pada sarapan, selesai quick b'fast, gue ke consierge untuk titip luggages, karena toh 2nd staynya balik ke hotel ini lagi, jam 8 , udaranya udah panas banget, naik bis, siap2 jalan deh ke Agra, on the way, stop buat jalan jalan ke Agra Fort, Sikandra Tomb dan Fatehpur Sikri.
Disini gak enaknya bawa tour ke luar gini, gue jadi nganggur, karena sudah ada guide local yang menjelaskan cerita sepanjang perjalanan, jadi tugas gue cuma memperhatikan tamu gini gitu, sambil ngobrol dijalan sama tamu, guide local gue sekali ini namanya Jay Kumar, dia minta dipanggil Jay , inggris berlogat india, dengan gelengan kepala yang gak ketinggalan, jadi inget salah satu tamu gue nanya, "Dien, gimana bedain iya sama ngganya yah klo orang india? nah semuanya geleng2 kepala gitu?", huahahahahahaa..., sebenernya beda sih, yg satu geleng sambil bilang atcha atcha yang artinya iya, yang satu lagi geleng sambil bilang nehi nehi yang artinya ngga, jadi inget boneka Yogya, jadi gue bilang gini sama tamu itu, oya Indra namanya, "Ndra, loe tau gak klo orang india sama orang jawa itu sebenernya saudaraan? ", si Indra ngeliatin gue sambil curiga gitu, "Kog bisa?? darimana jalannya bisa saudaraan gitu?", "Gini loh, loe ke yogya deh, cari boneka jawa yang kepalanya oglek2 gitu, pernah liat kan?", si Indra ngangguk, "Nah, ituu boneka adalah nenek moyangnya orang india, mirip toh ngangguk2nya?", si Indra langsung ngelengos sambil bilang, "Huhhhhhh...", huahahahahahaha...

Udaranya panas, ngekeb gitu loh, trus bau2 minyak rambut yang tebal banget dari orang2 yang ada disekitar, bikin sumuk, udah pakai sunglasses, tiap tamu bawa botol aqua, guide lagi jelasin ini itu, gue duduk sambil liat2, ada satu bapak, rambut gimbal, pakai cawat dari kain putih yang warnanya dah gak jelas, dia lagi koprol diatas jalan batu, koprol bangun,tangan menyatu di dada, koprol lagi, bangun, nyembah lagi, koprol lagi,gitu aja seterusnya, sambil menuju ke suatu bangunan temple gitu, gue tanya Jay, dia itu ngapain, lagi latihan senam apa gimana, ternyata itu orang lagi meditasi, dengan niat sampai di temple itu, koprol way, hhehee.., geli2 kagum gue jadinya, trus ada orang yang duduk di pinggir sungai, meditasi disitu, kehidupannya cukup rusuh yah, anak2 kecil tanpa baju, item, kriting, kurus lari2an kesana kesini, anjing2 kurus, ibu2 memakai sari dengan bindhi dan taburan bedak di dahinya berjualan di pinggir jalan, cukup bikin gue bersyukur dengan Indonesia, selesai tour, menuju ke hotel, ada waktu sekitar 3 jam, sementara tamu lagi pada istirahat, gue jalan jalan sendiri, bener kata BadJohn, jalan di pasar itu paling asik, ada pasar di deket hotel di Agra, lupa gue namanya, disitu jual makanan khas warna warni, trus bunga, bindhi, gelang2 hiasan, kain2, gue dapat 2 lembar pashmina warna biru muda dan abu2, trus beli sekotak bindhi, sekotak kecil bedak warna merah yang buat ditabur di kening, gak tau buat apaan, seneng aja, minyak aromatic, bubuk cendana buat dibakar, balik2 bawa kantong kresek ke hotel, hhehehee..buat cewek2 yang suka asesoris, jangan jalan ke pasar deh klo gak mau kesetanan, asesoris rambut, gelang, kalung dll gitu bisa bikin gila...kekekeke.., makan malam di hotel sambil nonton tarian tradisionil, trus Jay bawa kita semua ke suatu tempat di dekat hotel yang menyewakan baju tradisionil India, udah aja pada tuker, yang cowok pakai semacam safari panjang, yang cewek ganti pakai sari, baru tau kan kalau kain sari itu panjangnya 12 meter dililit2 gitu? soalnya gue juga coba tuh, huahahahaha..., trus motret rame2, serasa bintang pilem bolliwood banget dah pokoke...balik hotel, tewas dengan sukses...

Hari 3 : Agra - Delhi

Bangun jam 4 pagi, hari ini harus pergi pagi banget,khusus untuk melihat yang satu ini bukti cinta seorang maharaja Syah Jehan buat permaisurinya Mumtaz Mahal, mereka menikah tahun 1612, walaupun perkawinan kedua, tapi Mumtaz menjadi pendamping suaminya yang paling setia, dia menemani suaminya kemana saja, dia menjadi sahabat, penasehat dan pendukung Shah Jehan, memiliki 14 anak dari suaminya, dan kemudian meninggal tahun 1630, dilanda kesedihan yang dalam, Shah Jehan memutuskan untuk membangun sebuah monumen keabadian cintaah (tsahhh..), bukti cinta Shah Jehan yang tidak akan pernah berakhir untuk Mumtaz Mahal, yang kemudian monumen itu dinamakan Taj Mahal, kompleks Taj Mahal ini selesai dibangun 1648 ditepi sungai Yamuna di daerah Agra. Gue duduk di seberang tempat ini,mendengarkan Jay cerita sejarah tempat ini dan kisah cinta abadi itu, matahari terbit, dan beneran gue merinding waktu itu, hehehe..
Sambil nunggu tamu2 motret, gue kelilingan lagi di luar kompleks Taj Mahal, ada tukang jualan susu, jadi duduk, minum susu hangat, biasanya gue gak suka susu, tapi tau deh, waktu itu mau aja rasanya :d, setelah semua kumpul, balik hotel, sarapan, trus balik lagi ke Delhi buat city tour ke Qutub Minar,India Gate, Presidential palace dan Sikh Temple. selesai tour, waktunya shopping buat tamu2 gue deh, habis itu ke hotel dehh...

to be continue

# balik ke atas#

Sunday, July 18, 2004

Saya pulanggg

hei, gue dah pulang nih :P, tournya dipotong 5 hari gara2 kunming dan chengdu banjir, so here I am...kegiatan pertama gitu nyampe adalah : makan nasi padang :))

ini toh yang bow2 tulis, hehe, ngga bow, gue nda marah, biasa aja tuhh, tapi nanti yaah, tunggu aja pembalasannya, kekekeke..and u got it rite, gue emang akan bikin semua itu tidak ada lagi :D
thanks ya bow, luv u 2 darlen' :P

Cerita menyusul, trus foto, ngga ada, digcam gue ilang, huhuhu..:((


# balik ke atas#

Thursday, July 01, 2004

bye for now



minyak kayuputih ? check
lip balm ? check
baton ? check
digcam ? check
batteries ? check
picture of you ? check
condoms ? check (huekekeke...)

All my bags are packed, I'm ready to go
I'm standing here outside your door
I hate to wake you up to say goodbye
But the dawn is breakin', it's early morn
The taxi's waiting, he's blowin' his horn
Already I'm so lonesome I could cry
.

time to hit the road again folks !
do take care all of you
surely will miss each and every one of you
cyaa.....

> bae bae ya di rumah, emak kerja duluk..kekeke..



**lyric from Leaving on the jet plane by John Denver.
# balik ke atas#