<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/4124261?origin\x3dhttp://minyak-kayuputih.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Ja ja ja

I don't know what I'm becoming. But I know for sure , U wouldn't like me when I'm angry

Sunday, May 29, 2005

Mama



Beberapa hari kemarin orang yang paling penting dalam hidup gue ultah. Ceritanya, gue mo bikin surat buat dia. SURAT ?? kog surat? iya, ceritanya gue terinspirasi dari salah satu anggota jalansutra yang nulis surat buat nyokapnya, tapi...sapa bilang nulis itu gampang?? susaaaah taoo..., banyak benernya yang bisa ditulis di surat itu, tapi kog susah yah untuk dituangkan di selembar kertas..? ciee...:D

jadi ceritanya sudah berlembar lembar kertas jadi korban, ada yang menurut gue kog jayusss banget, ada yang formal banget, sampai akhirnya niat bikin surat itu di ilangin aja deh. Kertas korban itu, dikumpulin, dirapiin, dibendel, dikasi judul "Perasaanku".

Pagi waktu nyokap lagi mandi pagi, bendelan itu ditaro di tempat tidurnya bersama dengan seikat bunga, trus buru2 kabur ke halaman depan, ngga lama, nyokap ke halaman, bawa bendel itu, trus mendekat, plaak..!!! itu bendelan digetokin pelan2 ke kepala gue, "Nulis aja ngga bisa.." kata dia gitu, trus nyokap nangis dan tentuueww sajaah gue juga ikutan nangis, hehe..:p

Jadi, sapa yang bilang nulis itu gampang?? fitnah itu namanya ..:D

Happy Birthday Mom :)
# balik ke atas#

Wednesday, May 11, 2005

Five People



Kali ini resensi buku, cailaaa...resensi, sapa gue sampe berhak bikin resensi, hehe.., cuma mau bagi pendapat aja deh..:D

Five People You Meet In Heaven
by : Mitch Albom

Buku ini bercerita ringan, tapi berat, apa sihh..hehe, iya, klo mo dilihat dari sisi cerita aja, ini bisa dianggap cuma cerita yang habis dalam beberapa jam aja, tapi kali ini, gue ketemu 'hal' yang terkandung di buku ini.

Tokoh utama dalam buku ini Eddy, seorang 'maintenance' untuk taman hiburan, yang pertama tama kita baca justru kalimat 'The End', lah baru juga mulai udah the end aja gimana ini? iya, tamat dalam pengertian selesainya hidup si Eddy ini, tapi belum tamat dalam perjalanan hidupnya. Eddy meninggal karena mencoba menyelamatkan satu anak perempuan yang 'terjebak' dalam situasi yang gak bagus. Salah satu wahana dalam taman hiburan itu rusak, dan akan menimpa anak tersebut lalu Eddy menyelamatkan anak itu dan akibatnya dia menjadi korban tertimpa wahana yang rusak itu.

Awal awalnya, diceritakan Eddy sudah lama hidup sendiri, tampangnya yang seram, kaki yang pincang akibat perang yang dia jalani di masa lalu, tapi anak anak kecil suka, karena dia bisa membuat mainan berbentuk binatang dari pembersih cangklong, hehe..jadi ingat punya bokap, dulu sih dipakai buat ikatan rambut, dah kembali ke cerita ini, istrinya Marguerite sudah meninggal, Eddy menghabiskan seumur hidupnya di taman hiburan ini sepulangnya dia dari perang.

Yang perlu diambil dari cerita ini adalah, kadang kita berpikir hidup ini mengalir dan kadang tidak berhubungan dengan hidup orang lain, tapi di cerita ini, kita bisa melihat kalau kadang hidup kita justru berkait erat dengan hidup orang yang belum tentu kita kenal, istilah sebab dan akibat terbaca jelas disini.

Perjalanan rohaniah Eddy, kalau boleh gue bilang seperti itu, dimulai ketika dia bertemu dengan 5 orang setelah kematiannya, dimulai dari dia masih anak anak, dilanjutkan ketika dia remaja sewaktu dia berada dalam situasi perang yang mengakibatkan kakinya cacat lalu sewaktu dia bertemu dengan istrinya Marguerite lalu pada tahap dia bertemu orang yang justru tidak pernah dia kenal, tapi bisa menjelaskan latar belakang sifat dari ayahnya yang dia benci karena menurut Eddy, ayahnya itu sibuk memikirkan diri sendiri, sampai pada taraf dia memaafkan ayahnya dan dirinya sendiri dilanjutkan pada akhirnya dia bertemu orang ke 5, yang justru selalu menjadi tanda tanya besar dalam hidupnya yang akhirnya merupakan sebuah jawaban yang dia tunggu selama ini.

Klo gue boleh saran, ketika membaca ini, kita harus melepaskan pikiran tentang agama, ini boleh hanya cerita, karena kalau mau dilihat dari sisi agama apapun justru tidak akan masuk akal, kita harus 'memerdekakan' pikiran, membiarkan pikiran melayang dan ketika kita selesai membaca buku ini, kalau gue, jadi ada pertanyaan baru, ketika gue mati nanti, siapakah lima orang yang akan gue temukan nanti :P

Buku yang ringan, kalimat kalimat yang mengalir lembut tapi berisi.
Sangat disarankan untuk dibaca yah...
# balik ke atas#

Sunday, May 08, 2005

Perjalanan sepi



The long and winding road
That leads to your door
Will never disappear
I’ve seen that road before
It always leads me here
Lead me to you door

The wild and windy night
That the rain washed away
Has left a pool of tears
Crying for the day
Why leave me standing here
Let me know the way

Many times I’ve been alone
And many times I’ve cried
Any way you’ll never know
The many ways I’ve tried

But still they lead me back
To the long winding road
You left me standing here
A long long time ago
Don’t leave me waiting here
Lead me to your door

But still they lead me back
To the long winding road
You left me standing here
A long long time ago
Don’t leave me waiting here
Lead me to your door
Yeah, yeah, yeah, yeah


The Long and Winding Road by : Beatles

Sayup lagu ini menemani perjalanan jam 03.00 pagi Minggu kemarin dari Coolibah ke Jakarta, ngga jauh sih ya, tapi ternyata cukup bikin 'hhhh...' juga.

Sabtu sore dari Jakarta, ke Coolibah di daerah puncak buat beresin outing kantor, tumben ngga macet, sampai di tempatnya, check ini itu, serah terima tugas dengan panitia lain yang menginap disana, sambil mikir mau jam berapa balik ke Jakarta karena Minggu ada janji sama ortu, akhirnya mutusin balik mendingan pagi banget buat menghindari kegiatan rutin daerah puncak setiap minggu yaitu macet. Mau tidur tanggung, ngobrol sambil gitaran, dari rencana jam 5 jadi jam 3 aja deh baliknya mumpung blum ngantuk supaya begitu sampai Jakarta masih ada waktu buat tidur 2 jam gitu sebelum ketemu ortu.

Keluar dari kawasan Coolibah, gelap banget (ya iyalah, namanya jam 3 pagi gitu) udah siap kopi panas, siap lahir batin karena udah lama gak nyetir 'kalong hour' gitu :D, yak jalan yuk..! cuma ada beberapa mobil di jalan, mengikuti jalan yang meliuk sambil membiarkan angin ngeberantakin rambut gue, bergumam sendiri mengikuti lagu, terasa sangat gelap dan sepi banget, here..deep inside my soul (sambil nepuk dada sebelah kiri) sempat bikin gue menghela dan menghembuskan nafas panjang supaya apapun itu bisa hilang... sampai daerah kebun teh, sempetin sebentar untuk berhenti di parkiran Rindu Alam yang sekarang dijadiin hak milik pribadi (masih aja sempet protes :D) memandang kebawah, cahaya lampu lampu yang kemarin malam tertutup kabut sekarang cerah, bersinar kecil kecil bak bintang di bawah sana, sampai dingin rasanya ada di dalam jiwa, baru balik dan melanjutkan lagi perjalanan.

U know what? Saat ini saya lagi berharap, supaya bisa balik ke masa dulu, dimana beban pikiran dan hidup tidaklah serumit ini, tapi sekeras apapun saya berharap, saya juga tau itu semua tidak akan terjadi lagi, kita toh akan selalu berjalan ke depan dan hanya bisa memandang apa yang pernah terjadi dahulu sambil menyesali atau membanggakan mungkin, tanpa pernah bisa kembali lagi ...

A long and winding road...
# balik ke atas#