<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/4124261?origin\x3dhttp://minyak-kayuputih.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Ja ja ja

I don't know what I'm becoming. But I know for sure , U wouldn't like me when I'm angry

Thursday, June 30, 2005

Teman lama



1st of all, Patty, salah satu ular kesayangan gue mati selasa kemarin.Gak tau sebabnya, karena gue gak lagi di Bogor waktu itu, mau balik juga ngga bisa, gue masih sempet ngasi makan sebelum pergi dan herannya gak seperti biasanya, dia galak banget sama gue abis makan itu, pas mau diambil udah marah, diliatin aja udah marah, trus gue pergi, hari minggunya, bi Ikah bilang patty muntahin semua makanannya habis itu diem aja, dan selasa pagi, udah gak ada.

Hari yang sama, gue ketemu teman lama, terakhir ketemu dia thn 2000 deh, orang Surabaya, mulanya sih cuma sms, nanya apa gue mau bawa tour dia, trus disambung telp2an, dan janjian ketemu hari selasa itu deh. Rasanya masih melayang gara2 telp dari bi Ikah itu, ngomong tour gini gitu, jadi, brangkat kita hari Jumat pagi nih. Msia - Sin - Bkk sampai selasa.

Selesai ngobrol, dia pergi lagi, muncul satu2 anak2 guide, kebetulan tempat ngobrol itu memang tempat nongkrong guide,ngobrol atau lebih tepatnya dengerin mereka cerita gini gitu, senyum dikit, bengong selagi mereka cerita, duhh kalo mereka tau pasti sebel deh, hehe...

Balik kost, migren kambuh, nasibb nasebb...:(
# balik ke atas#

Thursday, June 09, 2005

In Memoriam : Mukidjan



Kalau kemarin2 ini gue ngebahas buku, posting kali ini khusus untuk Mukidjan, satu orang hebat yang ada di dalam hidup gue.

Foto ini sempat jadi kalender tahunan dari Tempo kalau gak salah (CMIIW), tokoh yang lagi berjalan di tengah2 polisi ini itulah Mukidjan, orang yang memang hidup di jalan, temannya dimana mana, kalau mengaku pernah jadi aktifis di jalan, pasti pernah ketemu beliau di tengah2 pergerakan mahasiswa.

Pak Mukidjan meninggal dunia hari ini (8 Juni 2005) di Yogyakarta pukul 06.15. Penyakit komplikasi yang akhirnya bisa memaksa beliau untuk benar2 beristirahat. Kalau selama ini, siapapun atau apapun penyakit dan halangan tidak bisa menghentikan beliau.

Beliau gue kenal dari mulai gue masuk kantor yg sekarang ini, banyak yang sudah dirasakan, tapi betapa sedikit yang bisa dituangkan dalam bentuk tulisan, yang jelas berita pagi tadi sempat bikin gue 'blank' sesaat, rasa terkejut, sedih, kehilangan seorang yang dekat banget di kantor, orang yang bisa dengan berani menghadap boss untuk protes, orang yang ngajak gue untuk masuk kelingkungannya, berkenalan dengan kawan2nya, orang yang pernah sama gue nongkrong di tengah2 jalan Thamrin sambil makan nasi goreng waktu kerusuhan kemarin, orang yang membuat rasa sakit yang nyelekit banget di dada kalau teringat semua tentang beliau.

Yang jelas, kantor tidak akan sama lagi tanpa beliau, tidak akan ada lagi teriakannya di radio, tidak ada lagi tempat bertanya tentang ledakan, tidak akan ada lagi orang yang bisa diandalkan untuk mencari informasi. Terakhir tgl 1 Juni, ketemu di lift kantor, beliau bilang mau ke Yogya, merayakan pernikahan anaknya sambil mencari pengobatan alternatif untuk lever dan lambungnya, "Mau istirahat juga, rasanya saya capeee banget sampai linglung" gitu katanya waktu itu, dan ternyata beliau memang beristirahat buat selamanya di kota kelahirannya itu.

Selamat jalan Pak Mukidjan, Mukeje, Babe, Cobra 5, selamat istirahat Be, gue disini pasti akan kehilangan banget.


PS. Minta tolong dong, kalau tau fotographer yang membuat foto diatas, gue mo minta tolong, minta satu copy fotonya untuk keluarga pak Mukidjan.

Photo source : TEMPO
# balik ke atas#

Wednesday, June 01, 2005

Life of Pi




by : Yann Martel

Buat gue, buku ini bisa menjadi sangat menarik buat orang yang suka binatang dan kehidupannya, bisa juga sangat menarik untuk orang yang bersedia meluangkan hati dan pikirannya untuk melihat sisi agama selain agama yang dianutnya, bisa juga sangat menarik buat orang yang mau membaca kegelisahan seorang anak akan hari esoknya.

Setting cerita ini mulai dari Pondicherry, suatu kota di bagian union territory selatan Madras, Tamil Nadu India dilanjut ke Lautan Pasifik- pantai Tomatlan di Mexico dan Toronto Kanada.

Tokoh utama dari cerita ini adalah seorang anak bernama Piscine Molitor Patel yang biasa dipanggil Pi Patel. Lengkap dengan keluarganya, ayahnya yang memiliki Zootown, kebun binatang yang terletak di kota Pondicherry, Ibunya, kakaknya Rafi dan binatang2 di dalam kebun binatang ayahnya itu. Pi Patel belajar banyak dari binatang2 itu, juga belajar banyak dari orang2 yang ada di dalam hidupnya, belajar banyak juga sampai akhirnya dia memutuskan untuk menganut beberapa agama. Pada bagian ini, seakan kita dibukakan kesempatan untuk 'menengok' agama lain. Kehidupan Pi Patel mulai berubah waktu ayahnya memutuskan mereka akan pindah ke Kanada. Dengan menumpang kapal Tsimtsum , mereka berlayar dari Madras menuju Kanada yang kemudian tanpa sebab yang jelas kapal itu karam, hanya satu sekoci berhasil diturunkan, membawa penumpang seekor hyena, seekor zebra yang kakinya patah, seekor orang-utan betina, seekor harimau Royal Bengal seberat 225 kg, dan Pi Patel - anak lelaki India berusia 16 tahun. Dan disinilah mulai petualangan Pi Patel, bagaimana caranya dia melawan dan menyiasati rasa takutnya, rasa meragukan dan rasa percayanya pada Tuhan, bagaimana usaha dia untuk menghilangkan perasaan menyerah pada kenyataan kalau besok, mungkin dia akan mati.

Terkatung katung di lautan Pasifik selama 7 bulan memang bukan sesuatu yang menyenangkan sampai akhirnya dia terdampar di pantai Tomatlan yang terletak di Mexico dan pada akhirnya sampai juga di Kanada yang menjadi tujuan pertamanya lalu meneruskan sekolah dan menikah dengan Lakshmi.

Menarik kan? hehe..Kisah yang luar biasa, penuh keajaiban, dan seperti ucapan salah satu tokoh di dalamnya, kisah ini akan membuat orang percaya pada Tuhan.

Buat gue, pengarang buku ini memang sangat pantas menjadi pemenang The Man Booker Prize tahun 2002, dia bisa melukiskan secara detail apa yang terlihat, perasaan yang tidak gampang dituangkan dalam kata2, banyak perbandingan yang selama ini kadang menjadi pertanyaan tak terjawab.

Jadi selamat membaca...:)
# balik ke atas#