bingung mode set on
Time will tell.
Pernah gak merasa meragukan kemampuan sendiri? Gue lagi ngalamin itu sekarang ini. Biasanya gue yakin suyakin dengan kemampuan gue untuk menilai orang yang gue mo jadiin teman, berdasarkan 1st impression mungkin, atau insting kali, kalau itu orang bisa jadi teman yang baik nantinya, tapi akhir akhir ini ngga lagi.
Orang orang yang ada di sekitar gue biasanya terdiri dari, orang orang yang gue gak kenal sama sekali, orang orang yang gue kenal, orang orang yang jadi teman, dan golongan terakhir yang paling sedikit adalah orang orang yang gue 'akui' sebagai sahabat. Dan biasanya tahapan dari orang yang gue gak kenal, jadi orang yang gue kenal, beberapa dari mereka trus masuk taraf seleksi menjadi teman, gue ajak brantem dulu, gue ajak debat dulu, gue isengin dulu, gue apain dulu, kalo masih kuat mentalnya, atau gue jadi merasa 'perlu' dia, dan gue bisa percaya sama dia, baru akhirnya jadi sahabat, hehe...biasanya mereka gugur di taraf teman ke sahabat itu, dengan berbagai alasan dan sebab, entah mereka yang keburu 'empet' sama gue, atau biasanya ada hal kecil yang terjadi , yang bilang kalo gue gak bisa percaya sama mereka.
Well, like it or not, I have to admitted kalo gue bukan orang yang gampang berteman dan dijadikan teman. Orang boleh pikir mereka kenal dan tau gue, tapi belum tentu, hehe...jadi sampai sekarang, orang yang gue 'akui' sebagai sahabat, itu gak lebih dari jari jari yang ada di tangan.
Tapi ada kalanya 1st impression gue salah. Orang yang gue anggap, hmm...gak bisa jadi teman, pada akhirnya justru malah jadi teman gue, hehe...dan orang yang gue anggap teman malah pada akhirnya gak jadi teman gue. wajar dong, kan gue bukan dukun, hehe...
Masalah ngga percaya lagi sama kemampuan gue untuk menilai, bikin gue jadi gimana ya.., mungkin boleh dibilang mempersulit keadaan, gue jadi lebih 'susah ' untuk percaya sama orang, negative thinking kalo ada yang baik sama gue, dan gue sendiri gak suka perasaan seperti itu sebenarnya, karena rasanya ngga adil, mereka toh ngga tau masalahnya, dan bukan mereka penyebab semua itu, tapi mereka jadi kena imbasnya.
Gue sempet ngomongin ini sama salah satu orang yang gue anggap sahabat, dia ini ibu2, jauh dari gue, tapi hampir tiap hari ngobrol, baik di ym atau via sms, gak tau kenapa, tapi mungkin karena 'gila' dan 'iseng' kita sejalan, haha...jadinya gak perlu susah susah untuk nerangin lagi, kenapa gue atau dia bertindak aneh menurut ukuran umum, hehe...(^_^) dia bilang, kalau gue harus bisa nerima dulu, keadaan kalau gue 'sempat' salah menilai orang, secara dewasa, dengan bahasa lainnya, ngaku salahlah... selama gue belum bisa menerima itu , gue akan tetap saja negative thinking.
Iya, gue sempat 'salah' menerima dan mengartikan maksud dan niat orang. Mungkin karena gue terlalu sombong untuk bisa nerima, kalau 'insting' gue ternyata lagi lemot, gue 'salah', untuk mengharapkan orang akan bertindak sama seperti gue memperlakukan sahabat sahabat gue, karena pada dasarnya orang itu cuma 'mempergunakan' gue doang, konotasi 'mempergunakan' itu kan bisa bermacam macam, bukan cuma pengertian dipake doang...eniweei..hehe...sedih juga yah kalau harus ngaku seperti itu.
Percaya gak, akibat dari itu semua, gue sempet merasa gak perlu lagi punya sahabat baru, gue merasa takut untuk punya sahabat baru, takut kalau salah lagi, traumatik ... gue mulai berpikir kalau sahabat sahabat yang ada sekarang udah cukup. Gue juga mulai 'membiasakan' diri gue untuk bisa menanggulangi masalah gue sendiri, I even started to build my own world , gue mencoba untuk mengurangi komunikasi dengan sahabat yang udah ada, dan akibatnya apa? Mereka complain, hehe...mereka tau gimana biasanya gue 'bawel' baik dalam keadaan baik atau tidak baik, perlu dicatat, gue cuma bisa 'bawel' sama orang yang gue brasa 'comfort to be with' tapi ini kog jadi 'mingkem wae', hehe...dan waktu gue 'akhirnya' cerita , apa sebab itu semua, mereka bilang gak bisa dong menyamakan mereka hanya dengan satu orang, 'enak aja loe, emangnya kita orang apaan...'geto masa, hehe...jadi gue kembali atau paling ngga berusaha untuk menjadi gue yang dulu, khusus untuk sahabat sahabat gue itu.
Sedangkan orang yang bikin gue mau gak mau harus ngaku kalau gue salah itu, agaknya masih belum sadar kalau gue udah tau, masih aja dia merlakuin gue 'like a fool', dan begonya gue, masih aja bersopan santun, hehe...itu gue, ke orang yang gak gue kenal, gue bisa jadi 'jahat' kalau perlu, tapi ke orang yang gue udah anggap sahabat atau 'bekas sahabat', gue malah memilih untuk diam. Jadi kadang kalau orang itu telpon, ngobrol kiri kanan, gue jawabin seadanya, sambil mikir 'geee...what I've done to deserve all of these...?' sigh...., pingin deh rasanya bisa bilang, "eh allooooo...gue udah tau, you've betrayed my trust on u, so stay awayyy as far as you can and while u still can...", tapi tetap aja gue memilih untuk diam, dan berharap one day, orang itu akan sampai pada taraf 'tau diri' sebab kalau dia gak debil rasanya dia tau perbedaan tingkah laku gue ke dia.
Jadi untuk beberapa orang, yang merasa gue jadi lebih cerewet, lebih demanding, lebih keras, lebih selektif, lebih gimana gimana, maaf yah...memang sih bukan salah anda, tapi saya juga punya hak untuk selalu melindungi perasaan saya kan? Saya berniat baik, dan saya juga mengharapkan orang bersikap sama, dan saya tidak mau lagi untuk menyia nyiakan semua perasaan dan lain lain untuk orang yang sebenarnya tidak berhak, hehehe...
Enihoww...saya tidak akan pernah menyesali apa yang sudah terjadi, atau apa yang sudah saya perbuat, APAPUN, tapi saya juga tidak ingin memulai untuk menyesali...jadi jangan salahkan saya kalau saya lebih berhati hati...
Time will tell.
Pernah gak merasa meragukan kemampuan sendiri? Gue lagi ngalamin itu sekarang ini. Biasanya gue yakin suyakin dengan kemampuan gue untuk menilai orang yang gue mo jadiin teman, berdasarkan 1st impression mungkin, atau insting kali, kalau itu orang bisa jadi teman yang baik nantinya, tapi akhir akhir ini ngga lagi.
Orang orang yang ada di sekitar gue biasanya terdiri dari, orang orang yang gue gak kenal sama sekali, orang orang yang gue kenal, orang orang yang jadi teman, dan golongan terakhir yang paling sedikit adalah orang orang yang gue 'akui' sebagai sahabat. Dan biasanya tahapan dari orang yang gue gak kenal, jadi orang yang gue kenal, beberapa dari mereka trus masuk taraf seleksi menjadi teman, gue ajak brantem dulu, gue ajak debat dulu, gue isengin dulu, gue apain dulu, kalo masih kuat mentalnya, atau gue jadi merasa 'perlu' dia, dan gue bisa percaya sama dia, baru akhirnya jadi sahabat, hehe...biasanya mereka gugur di taraf teman ke sahabat itu, dengan berbagai alasan dan sebab, entah mereka yang keburu 'empet' sama gue, atau biasanya ada hal kecil yang terjadi , yang bilang kalo gue gak bisa percaya sama mereka.
Well, like it or not, I have to admitted kalo gue bukan orang yang gampang berteman dan dijadikan teman. Orang boleh pikir mereka kenal dan tau gue, tapi belum tentu, hehe...jadi sampai sekarang, orang yang gue 'akui' sebagai sahabat, itu gak lebih dari jari jari yang ada di tangan.
Tapi ada kalanya 1st impression gue salah. Orang yang gue anggap, hmm...gak bisa jadi teman, pada akhirnya justru malah jadi teman gue, hehe...dan orang yang gue anggap teman malah pada akhirnya gak jadi teman gue. wajar dong, kan gue bukan dukun, hehe...
Masalah ngga percaya lagi sama kemampuan gue untuk menilai, bikin gue jadi gimana ya.., mungkin boleh dibilang mempersulit keadaan, gue jadi lebih 'susah ' untuk percaya sama orang, negative thinking kalo ada yang baik sama gue, dan gue sendiri gak suka perasaan seperti itu sebenarnya, karena rasanya ngga adil, mereka toh ngga tau masalahnya, dan bukan mereka penyebab semua itu, tapi mereka jadi kena imbasnya.
Gue sempet ngomongin ini sama salah satu orang yang gue anggap sahabat, dia ini ibu2, jauh dari gue, tapi hampir tiap hari ngobrol, baik di ym atau via sms, gak tau kenapa, tapi mungkin karena 'gila' dan 'iseng' kita sejalan, haha...jadinya gak perlu susah susah untuk nerangin lagi, kenapa gue atau dia bertindak aneh menurut ukuran umum, hehe...(^_^) dia bilang, kalau gue harus bisa nerima dulu, keadaan kalau gue 'sempat' salah menilai orang, secara dewasa, dengan bahasa lainnya, ngaku salahlah... selama gue belum bisa menerima itu , gue akan tetap saja negative thinking.
Iya, gue sempat 'salah' menerima dan mengartikan maksud dan niat orang. Mungkin karena gue terlalu sombong untuk bisa nerima, kalau 'insting' gue ternyata lagi lemot, gue 'salah', untuk mengharapkan orang akan bertindak sama seperti gue memperlakukan sahabat sahabat gue, karena pada dasarnya orang itu cuma 'mempergunakan' gue doang, konotasi 'mempergunakan' itu kan bisa bermacam macam, bukan cuma pengertian dipake doang...eniweei..hehe...sedih juga yah kalau harus ngaku seperti itu.
Percaya gak, akibat dari itu semua, gue sempet merasa gak perlu lagi punya sahabat baru, gue merasa takut untuk punya sahabat baru, takut kalau salah lagi, traumatik ... gue mulai berpikir kalau sahabat sahabat yang ada sekarang udah cukup. Gue juga mulai 'membiasakan' diri gue untuk bisa menanggulangi masalah gue sendiri, I even started to build my own world , gue mencoba untuk mengurangi komunikasi dengan sahabat yang udah ada, dan akibatnya apa? Mereka complain, hehe...mereka tau gimana biasanya gue 'bawel' baik dalam keadaan baik atau tidak baik, perlu dicatat, gue cuma bisa 'bawel' sama orang yang gue brasa 'comfort to be with' tapi ini kog jadi 'mingkem wae', hehe...dan waktu gue 'akhirnya' cerita , apa sebab itu semua, mereka bilang gak bisa dong menyamakan mereka hanya dengan satu orang, 'enak aja loe, emangnya kita orang apaan...'geto masa, hehe...jadi gue kembali atau paling ngga berusaha untuk menjadi gue yang dulu, khusus untuk sahabat sahabat gue itu.
Sedangkan orang yang bikin gue mau gak mau harus ngaku kalau gue salah itu, agaknya masih belum sadar kalau gue udah tau, masih aja dia merlakuin gue 'like a fool', dan begonya gue, masih aja bersopan santun, hehe...itu gue, ke orang yang gak gue kenal, gue bisa jadi 'jahat' kalau perlu, tapi ke orang yang gue udah anggap sahabat atau 'bekas sahabat', gue malah memilih untuk diam. Jadi kadang kalau orang itu telpon, ngobrol kiri kanan, gue jawabin seadanya, sambil mikir 'geee...what I've done to deserve all of these...?' sigh...., pingin deh rasanya bisa bilang, "eh allooooo...gue udah tau, you've betrayed my trust on u, so stay awayyy as far as you can and while u still can...", tapi tetap aja gue memilih untuk diam, dan berharap one day, orang itu akan sampai pada taraf 'tau diri' sebab kalau dia gak debil rasanya dia tau perbedaan tingkah laku gue ke dia.
Jadi untuk beberapa orang, yang merasa gue jadi lebih cerewet, lebih demanding, lebih keras, lebih selektif, lebih gimana gimana, maaf yah...memang sih bukan salah anda, tapi saya juga punya hak untuk selalu melindungi perasaan saya kan? Saya berniat baik, dan saya juga mengharapkan orang bersikap sama, dan saya tidak mau lagi untuk menyia nyiakan semua perasaan dan lain lain untuk orang yang sebenarnya tidak berhak, hehehe...
Enihoww...saya tidak akan pernah menyesali apa yang sudah terjadi, atau apa yang sudah saya perbuat, APAPUN, tapi saya juga tidak ingin memulai untuk menyesali...jadi jangan salahkan saya kalau saya lebih berhati hati...
