<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/4124261?origin\x3dhttp://minyak-kayuputih.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Ja ja ja

I don't know what I'm becoming. But I know for sure , U wouldn't like me when I'm angry

Tuesday, July 20, 2004

Perjalanan 2

Hari 4. Delhi - Kathmandu

Selesai b'fast, chek luggage semua, karena pindah hotel dan pindah kawasan, gak boleh ada yang ketinggalan, beres, baru deh naik bis lagi ke airport, kali ini kita harus nerusin perjalanan ke Kathmandu, pas sampai di airport, tamu dan gue berpamitan sama Jay, yaeelaa...berlinang air mata getoo sih si Jay, kekekee...dasaarr..!!gue stengah bengong gitu liat pesawatnya, masih pakai yang baling2 gitu coy, hahahaha..ja ja ja, 25 orang penumpang tamu gue dan gue, sisanya beberapa orang lain, deg2an juga, terbang gak stabil gitu, tapi yaa dijalanin aja, hehe..

Sampai di Tribhuvan airport,ini satu2nya airport di Kathmandu, gak ada kursi, bule2 dengan backpack duduk di lantai, crowded,kumuh dah pokoke, petugas airport mundar mandir dengan lagak rese gitu, iseng2 gue tanya sama salah satu bule yang ngakunya dari Belgia, dia bilang udah 2 malam nginep di airport, karena pesawatnya belum bisa terbang gara2 cuaca yang belum mengijinkan, weeeks, bisa gituu seh, pikir gue waktu itu,
oya, set local time, 1 jam lebih cepat dari jakarta, temperatur 20-25'C, sempet nunggu guide lokal dan bisnya datang, tapi akhirnya beres juga :D

Sekali ini guide lokalnya namanya Shelley, bule Aussie yang nikah dengan orang Kathmandu, langsung city tour ke Durbar Square,Freak street dan Budhanilkatha, kotanya gak gitu besar, tapi rapi, pemandangan kanan kiri banyak pohon, teraturlah gitu pokoknya.

Durbar Square sendiri terletak di pusat kota Kathmandu, banyak temple Budha disini, atap2,pintu dan jendela yang berukir, yang kebanyakan adalah bangunan tua yang selamat dari gempa bumi besar tahun 1933 yang lalu, bangunan yang lain kebanyakan sudah dibangun kembali, tapi sayangnya ngga semua mengikuti bentuk bangunan asalnya.
Tempat ini diperkirakan dibangun abad ke 12, buat gue sangat sangaaaat menarik, kota tua, dengan rickshaw yang mundar mandir sana sini, wihara wihara dengan warnanya yang menarik, penjual tepi jalan yang berjualan souvenir untuk para pendatang, on the way, kita melewati Lonceng raksasa yang kalau dibunyikan dipercaya bisa ngusir roh2 jahat,bunyinya bening banget, jauh mengalun ke udara.., Jaganath Temple yang terkenal dengan ukiran2 erotisnya,huekeke..lumayan buat nambah2 ilmu :)) ada juga patung dewa Kala bertangan 6 yang gedee banget, dan Taleju temple yang cuma dibuka setahun sekali sewaktu festival Dasain.

Freak Street
Waktu tahun 1960 -1970, tempat ini terkenal sebagai pusat hippies , nama sebenarnya dari tempat ini adalah Jochne, tapi sejak awal 1970, lebih dikenal dengan nama Freak Street,daya tarik kota ini sangat besar, jalan2 yang terbuat dari batu, harumnya setanggi, anak2 kecil yang bermain lingkaran doa, hotel2 murah seperti di Prawirotaman Yogja, restoran kecil, toko2 yang berjualan alat2 sembahyang, paduan antara glodok dan malioboro, atau seperti Soho, kalau gue hippies, memang ini adalah tempat yang paling cucokk, piss maan..!hehehe..

Budhanilkantha sendiri adalah temple besar, sebagian besar tamu gue penganut agama Budha yang sibuk sendiri jadinya untuk menyempatkan diri bersembahyang di temple itu, gue nyoba untuk ngeramal nasib menggunakan burung yang mengambil ramalan nasib, mau tau isinya? gini 'Berjalanlah terus, perjalananmu masih jauh', pas baca gue bilang dalam hati, EMBEEEEEEERRR....kekekekeke

Dari situ check in hotel, hotelnya terletak di tebing gunung gitu, dan dari kamar gue , pemandangan ke arah gunung2 yang mengelilingi Kathmandu terbuka luas, huhuhu...jadi inget cameraaa guee :((

Hari 5. Kathmandu

Habis b'fast, naik bis lagi deh, kali ini Shelley ditemani oleh suaminya Ashook, tujuan pagi ini mengunjungi kota Patan.

Patan, walau sekarang menjadi distrik Kathmandu, kota ini dulunya adalah pusat dari suatu kerajaan besar, dibandingkan dengan Kathmandu, kota ini lebih sepi, lebih tenteram dan lebih antik, lebih bohemian gitu gayanya, kalau Kathmandu sibuk membangun kotanya, penduduk Patan lebih memilih memperkaya jiwanya, yang mungkin menjelaskan nama lain dari kota ini yaitu Lalitpur yang berarti City of Beauty, di kota ini bisa didengar dentang suara pengrajin logam, Bahal, gerbang kota dijaga oleh sepasang patung singa yang menurut gue seperti lagi nyengir gitu, hehe.., dalam dasa warsa 2 abad, Patan menjadi kota singgahan para expat, organisasi dunia seperti UN dan USAID juga membuka kantornya disini.

Patan ini adalah kota tertua , sempat menjadi pusat budaya Nepal
keanggunan kota tua ini terlihat dari bangunan2 temple dan monumen2 yang seakan bertahan dari waktu, sementara penduduknya sendiri sekarang kebanyakan lebih memilih bangunan modern, kebanyakan mereka menjual kusen jendela dan pintu mereka sebagai barang antik untuk membeli jendela dan pintu modern, sayang yaah..?!

Selesai keliling, trus balik lagi ke arah Kathmandu, menuju ke Swayambhunath dan Boudanath Stupa.

Swayambhunath
Dari kawasan lembah Kathmandu, stupa Swayambunath terlihat sebagai bentuk yang paling menarik perhatian, atapnya yang berwarna putih dan garis keemasan terlihat jelas, sejarah menyebutkan tempat ini sudah menjadi tempat kunjungan umat Budha dari abad ke 5, sekeliling tempat ini adalah telaga bunga lotus yang waktu gue datang sedang bermekaran, putih dan merah muda, bagusssssss banget, dari situlah tempat ini dinamakan Swayambu yang artinya 'Self-Created or Self-Existent'. umat Swayambhunath terdiri dari umat Hindu, Budha Vajrayana dari utara Nepal dan Budha Newari dari kawasan selatan dan pusat Nepal, jadi tempat ini menjadi semacam pusat pemujaan untuk agama Hindu dan Budha, konon setiap pagi, ratusan umat akan menaiki 365 anak tangga menuju ke atas bukit, melewati gerbang dengan dua patung singa itu, lalu melakukan upacara mengelilingi tempat itu, kalau Budha Vajrayana berkeliling searah jarum jam, Budha Newari berlawanan arah jarum jam, di setiap sudut stupa pusat, ada gambar sepasang mata besar, yang merupakan simbol dari segala sudut pandang dari Tuhan, ngga ada bentuk hidung, tapi ada bentuk angka 1 dari abjad Nepali yang melambangkan satu cara untuk mencapai kesempurnaan adalah melalui agama Budha, diatas sepasang mata besar itu, ada gambar mata ketiga, melambangkan kebijaksanaan berpikir, tidak ada bentuk telinga, karena konon Budha tidak berkenan mendengar pujian2 yang disampaikan dalam doa umatnya, hehehe..

Kawasan sekeliling stupa ini penuh dengan bentuk2 lambang Tantrik, lingkaran doa untuk Tibetan Buddhist, lambang2 trimurti, juga ada patung untuk dewi Harati, konon dewi ini melindungi umatnya dari penyakit campak dan penyakit menular lainnya, adanya patung ini melambangkan perpaduan antara agama Budha dan Hindu yang kemudian berkembang menjadi agama Budha yang dianut oleh orang Tibet.

Diatas bukit Swayambunath ada satu temple yang kecil dan jarang dikunjungi, Temple Shantipur, 'Place of Peace", tempat yang selalu merupakan rahasia karena selalu terkunci, ada ruangan bawah tanah yang pada abad ke 8 menjadi tempat meditasi dari Guru besar Tantrik Shantikar Acharya, dari meditasi inilah, umur beliau bisa mencapai ratusan tahun, waktu lembah Nepal mengalami kekeringan,konon Raja Nepal meminta wangsit dari beliau ini setelah ada wangsit, atau mandala istilahnya dibawa keluar oleh raja, ditujukan ke arah langit, dan hujanpun turun, gue sempat masuk ke bagian luar temple ini, ada kesan mistery yang dalam terasa.

Swayambunath Temple ini dikenal juga dengan sebutan Monkey temple, ada ratusan monyet berkeliaran dengan bebas ditempat ini, biasanya para yogi bermeditasi setelah mengisap hashis, hehehe..kebayang..

Di lokasi seputaran Swayambunath juga terlihat temple2 penting lainnya seperti temple Pashupatinath yang merupakan temple untuk Shiwa, Boudanath temple, Changu Narayan, Dakshinkali dan Budhanilkantha, juga ada satu perpustakaan tua yang besar, tempat untuk mencari informasi dan referensi tentang tempat2 suci di Nepal, yang sayangnya tulisannya gue gak ada yang ngerti :(

Boudhanath Stupa/Jarung Kashyor

tempat ini terletak kurang lebih 6 km tenggara Kathmandu, merupakan stupa terbesar di Nepal dalam pengertian tinggi dan luasnya, tempat ini dikelilingi toko toko kecil yang dikelola oleh penduduk lokal, aduh souvenirnya lucu2 banget deh, ada sepatu dari jerami yang biasa kita lihat di film2 silat itu loh, ukiran2 bambu, batu2 alam yang bagus2 berbentuk cincin atau bandul kalung yang kebanyakan dibentuk dalam lambang2 agama Budha. Penduduk lokal di tempat ini kebanyakan orang Tibet, Tamang, Sherpa dan penduduk Newari sendiri.

Disini gue berkesempatan untuk mencoba rasbari kue bulat bulat yang terbuat dari mentega dan gula halus, yang pasangannya adalah po cha alias butter tea, teh yang dicampur mentega yak, sejenis lembu yang dipelihara penduduk disitu, rasanya? hmmm...ya itu, seperti minum teh campur mentega, hehehe.., nanti gue cerita tentang makanan khas di postingan lain aja yah.

bersambung
# balik ke atas#