<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/4124261?origin\x3dhttp://minyak-kayuputih.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Ja ja ja

I don't know what I'm becoming. But I know for sure , U wouldn't like me when I'm angry

Saturday, July 24, 2004

Perjalanan 4

Petualangan kali ini, tadinya gue pikir bakalan berat, di pikiran gue mendaki gunung gitu, bersalju pula, mana bisa tanpa persiapan yang benar2 gitu, eh pas diperjelas, ternyata mendakinya paling 2 jam, sementara untuk pindah dari tempat ke tempatnya, memakai land cruiser, lega deh gue, nah udah lama gak pernah naik gunung lagi, tiba2 harus naik gunung salju, bijimanaalah naseb awak kekeke..., jd inget satu temen, pernah ditanya apa dia suka kegiatan naik gunung, dan dengan full yakin dia cuma jawab gini, "Satu2nya yang gue dengan niat naik adalah elevator", hahahaa...dasar anak mall...(colek2 yg brasa aah...:p )

Hari 7.Drive Lhasa - Gyantse (3950m) - Shigatse (3900m)- 312 km.
Berangkat jam 5 pagi, 5 land cruiser siap di depan hotel, barang2 lain ditinggal, yg dibawa cuma baju untuk selama di perjalanan, jaket, snow boots dan keperluan pribadi lainnya. Tiap landcruiser lengkap dengan driver dan mountain guide, jadi ada 5 mountain guide, Mike, Davey, Jordan, Shirook dan Made (ini bukan orang bali, tapi aussie yang tergila2 sama Bali sampai ganti nama jadi Made :p).

Overland tour ini mulai dari Rongbuk valley, melalui Friendship Highway pakai jeep, melalui Khamba La (4794m), jalan pelan, karena tambah lama tambah naik, oksigen tambah tipis, jadi tiap bbrp km, berhenti, turun, gerak2in badan, sambil latihan nafas, phuhh phuhh..phuhhhh....hehe, dari Khamba La, pemandangan menakjubkan, ada danau Yamdrok-tso yang artinya bentangan kaca, dan ditepi jauh sebelah sana terlihat puncak bersalju dari Nazin Kang Sa (7252m), disini tamu2 gue berkesempatan untuk mencoba snow bootsnya, dipandu Made, Mike,Jordan dan Davey, mereka mendaki ke bukit kecil, sampai diatas, foto2, trus turun lagi, hehee.., sementara gue ngobrol sama Shirook lalu perjalanan diteruskan ke sebelah barat melalui lintas gunung Karo La (5045m), pemandangan glacier yang berjatuhan hanya beberapa ratus meter dari jalan menegangkan dan mengagumkan, melalui Gyantse dengan lembah2 dan perkampungan suku Tibet, baru istirahat deh. Di kota Gyantse ini, ada beberapa stupa berkubah warna emas yang dipanggil Gyantse Kumbum, ada hiasan mural tentang Tibetan Buddhism yang sangat bagus, disinilah, mimisan pertama saya terjadi, hehehe.., gak sadar, rasanya cuma meler2, di lap, pas dilihat, ooh mimisan tohh...Made menganjurkan untuk menyiram kepala dengan air, adooh boro2 deh, dingin banget getoo..untungnya gak lama udah berenti.

Setelah istirahat perjalanan dilanjutkan ke Shigatse, kota terbesar ke dua di Tibet, terletak di ketinggian 3800m, memiliki sejarah balik lagi ke 5 abad yang lalu, sekarang Shigatse menjadi pusat pemerintahan, bisnis, budaya dan agama. Populasi penduduk sekitar 70 ribu jiwa, temperatur 9'C, dimana disini musim panasnya cuma 160 hari, sisanya hari2 penuh salju. Disinilah terletak Qomolangma natural reserve, dan juga menjadi border Nepal, jadi kota ini cukup sibuk. Dengan kebudayaan yang kaya, biara2 besar, pemandangan yang sangat menakjubkan, Shigatse menjadi kota tujuan pariwisata paling populer di Tibet.

Sampai di hotel, rasanya udah gak mo makan lagi, rasanya cuma pingin baring, pegel banget, cape banget, malah jadi gak bisa tidur, dan abis mandi air hangat akhirnya terlelap juga deh.

Hari 8. Drive Shigatse (3900m) - Shegar (New Tingri) (4050m) - Rongbuk 321 km.

Bangun jam 5, rasanya badan pada protes dan teriak, "TIDAAAAAAAAAAKKK....." waktu dipaksa bergerak, hehehe..tapi mau nda mau deh,tugas is tugas rite? Mandi, sarapan, selesai sarapan, perjalanan dimulai lagi dengan kembali melalui Friendship Highway, puncak tertinggi disepanjang perjalanan adalah Gyamtso La (5220m), sepanjang perjalanan melalui biara2 terasing, pemukiman kaum nomadic lalu menuju ke Shegar(4050m), baru beristirahat.

Dari Shegar, keluar dari Friendship Highway menuju arah selatan melalui puncak Pang La (5150m) menuju ke lapangan Himalaya, disini sepanjang jalan, pemandangan pegunungan Everest ada di depan mata, berhenti tiap satu jam tempatnya semakin tinggi, ada beberapa tamu yang K.O, hehehe.., tapi semangat mereka masih tinggi kog apalagi mengingat perjalanan besok. Sekali ini tidak ada hotel, yang ada semacam guest house, sore sudah sampai, masih sempat berdiri lagi di tebing, lalu berteriak, dan ajaib, pegal dan rasa bosan jadi berkurang, hahaha..

Hari 9. Everest Base camp (5200m).

Bangun bisa siangan dikit hari ini, sarapan pagi dengan makanan berprotein tinggi, susu yak hangat, udara lumayan hangat , tamu2 sudah siap dengan seragam tempur mereka, ke 5 mountain guide akan mengawal mereka untuk mendaki sampai ke base camp Everest sementara gue? leye leye dong di guest house, hahahaa..
Mereka berangkat dengan jeep, gue jalan2 sendiri, ngga jauh dari guest house ada pasar kecil, tau klo resikonya agak besar, mereka jarang yang bisa inggris dan gue sama sekali gak bisa bahasa mereka, tapi why bother rite ? melihat barang2 yang dijual, umumnya masih kebutuhan sehari hari, cape jalan, masuk ke warung kecil, rata2 yang ada disitu ngeliatin gitu, tapi cueklah, Made sempat ngajarin semalam, untuk mengatupkan kedua telapak tangan di depan dada sebagai salam, jadi gue berbuat itu, terus duduk, nunjuk ke kue, sambil nyengir, well, now I know that my smile is quite sweet, huahahahaha ktularan narsis sama sapa yah gue ini ;) karena si ibu langsung mengambilkan beberapa kue di piring kecil, menuangkan teh hangat manis, dan gue duduk disana sambil makan. Tidak jauh dari tempat gue duduk ada satu bapak tua, sambil merokok dia ngeliatin gue gitu, ketika pandangan bertemu, dia senyum, giginya tinggal beberapa, mengingatkan gue sama pak Tile deh, hehe..gue melakukan salam dengan telapak tangan sambil senyum, "Awa", panggil gue, awa itu artinya ayah atau bapak (lagi2 ini ajaran Made), dia senyum lagi, lalu pindah duduk mendekat, bapak ini bisa inggris, walau hanya kata perkata, dari omongannya, gue menangkap kalau dulunya dia adalah seorang sherpa, ngobrol yang kadang gak nyambung, tapi ada beberapa kalimat bapak itu yang rasanya bakalan gue inget seumur hidup :) lama juga rasanya di warung itu, gue mau balik ke guest house, pamit, dia menahan dengan menekan pundak, lalu dia pergi, gak lama balik dengan selembar chara (selimut dari wool yak), bahu gue diselimutin, trus didorong suruh pergi sambi dia tetap senyum. Bahkan waktu gue mencoba nanya berapa yang harus dibayar untuk kue dan teh, dengan mengulurkan tangan penuh coin fen dan jiao yang dipakai sebagai alat pembayaran, ibu itu cuma tersenyum dan mengibaskan tangannya, hehe...serasa lalat banget deh gue dikibas gitu, hehehehe...

Keluar dari arah warung, banyak anak2 kecil berbaju lusuh mengikuti, jadi gue meraih segenggam fen dari kantong lalu membagikan mereka masing2 satu coin, senyuman anak kecil berambut hitam, berpipi merah walau kotor waktu itu terasa sangat manis :)

Tempat itu ngga besar, jalan lurus ketemu tebing, mau ngga mau ya musti arah balik, jadi di ujung tebing, duduk di tepinya, uncang2 kaki, sambil mengeluarkan sesuatu dari kantong, gue melakukan penguburan udara, melepas semua, dan sewaktu memandangi abu yang terbawa angin, rasanya semua beban juga terlepas..

Jalan pelan2 menuju ke guest house, dengan balutan chara di pundak, dan senyuman.
Selesai acara pribadi, hehe...

Petang waktu tamu2 gue balik dengan wajah yang merah tapi cerah, mereka sibuk menceritakan apa aja yang dialami, ke 5 mountain guide juga kelihatan capek, sedang gue dengan butter teh hangat mendengarkan mereka, malamnya acara api unggun di depan guest house, kebetulan ada bbrp group yang juga baru turun dari pendakian, hari itu benar2 berkesan buat gue.

Hari 10. Drive Rongbuk(5000m) - Tingri (4390m) - Lhasa 490km.

Hari ini berangkat mulai jam 10 pagi, sambil memberi kesempatan tamu2 untuk berkeliling, dan tentu gue gak lupa bawa mereka ke warung kecil kemarin itu, disitu mereka makan kue dan minum teh hangat manis, si ibu masih ingat sama gue, tapi bapak kemarin ngga ada :( baru melanjutkan perjalanan, sekali ini perbekalannya agak berat, karena jarak jauh dan perhitungan tinggi tempat, maka akan ada camping di tengah perjalanan, yaa basecamp darurat deh ceritanya hehe.., masuk lagi jalur Friendship Highway, gak ada lagi berhenti paling setiap 3 jam sekali untuk melemaskan kaki yang kaku, sampai di Tingri, perjalanannya mulai agak susah, melewati daerah kosong diantara Lalung La (5124m) dan Shung La (5200m), karena hari udah mulai gelap, jadi mountain guides memutuskan untuk mulai membangun tenda, jadilah kita camping disini, 10 tenda dibuat melingkari api unggun, teko, panci dkk dikeluarkan dan mulai memasak deh..., makanannya ngga mewah, tapi rasanya gimanaaa gitu, kumpul, sayang ngga ada singkong, huahaha..pasti lebih asik kalo pake singkong bakar :d , terus baru pada balik ke tenda masing2, dan istirahat. Tamu istirahat, dan gue baring menghadap langit, memandangi bintang2, what a life, what a journey...

Selama melihat para mountain guides menyiapkan peralatan dan tenda, gue jadi minder, pekerjaan mereka sangat2 profesional, persiapan yang teliti, peralatan yang begitu efektif, rasanya banyak yang harus gue belajarin lagi dari cara kerja mereka.

Pagi2 bangun, siap2 lanjut lagi perjalanan, semua sampah dan lain2 dikumpulkan di kantong yang sudah disiapkan, selama perjalanan, pemandangan puncak2 Shishapangma, Cho yu, Menlungtse dan Gauri Shankar membuat kata2 terlupakan, terasa banget kalau manusia itu kecilllll banget.

Perjalanan hampir usai, Rongbuk sudah terlewati, sore sampai lagi di guest house, masih ada 1 hari untuk melihat lihat dan beristirahat.


Hari 11. Lhasa

Tamu beristirahat, gue tetep kerja. Dapat berita kalau Chengdu dan Kunming banjir, jadi rasanya perjalanan ke kota2 itu harus dibatalkan, yang artinya tiket dan segala bookingan untuk hotel juga harus dibatalkan dan di re-schedule. Untung beres, cuma tinggal berharap udara akan tetap clear supaya ngga ada flight delay. Barang2 yang dipakai selama treking juga harus dikirim balik duluan ke Jakarta. Sore waktu semua kerjaan selesai, gue berniat balik lagi ke warung kecil itu, tapi waktu sampai disana sudah tutup, besok pagi pasti ngga sempat lagi kesana, jadi mengucap selamat tinggal untuk bapak dan ibu di warung itu dalam hati saja, satu kali gue akan balik lagi.

# balik ke atas#