<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/4124261?origin\x3dhttp://minyak-kayuputih.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Ja ja ja

I don't know what I'm becoming. But I know for sure , U wouldn't like me when I'm angry

Sunday, August 22, 2004

Ketika waktu



Terkejut dan ikut sedih waktu membaca blog Fahrie selain ikut bersimpati sedalam2nya juga jadi mengingatkan saya pada satu 'ketakutan' yang selama ini selalu terkubur dalam2 oleh ego.

Walau tergolong anak yang 'tidak terlalu akur' dengan orang tua terutama ayah, sekali waktu saya sempat terpikir, kalau saya diperbolehkan memilih siapa orang tua saya yang akan meninggal terlebih dulu , siapa yang kira2 akan saya pilih? Ibukah atau ayah? Pemikiran 'tidak berguna' seperti ini sempat saya pikirkan lama, sempat membuat saya tercenung, dan akhirnya membuat saya ketakutan sendiri dengan pemikiran itu.

Kalau saya memilih ibu terlebih dahulu, saya berani bertaruh kalau ayah tidak akan sanggup hidup lebih lama, selama berpuluh2 tahun mereka bersama, saya melihat dan menyadari kalau ayah 'sangat' membutuhkan ibu untuk segala aspek hidupnya, kehilangan ibu, akan jadi kehilangan yang sangat besar untuk ayah dan kami anak2nya, tanpa ibu pasti akan sangat menyiksa ayah tapi kalau saya memilih ayah , saya tahu ibu akan 'lebih kuat' dalam menghadapi hidup, tapi saya khawatir saya tidak bisa 'memenuhi' semua keperluannya, ibu saya bukan type perempuan penuntut ini itu, tidak sama sekali, tapi saya juga tidak ingin kalau ia tidak lagi bisa mendapatkan apa yang dia selalu dapatkan sewaktu ayah saya masih ada, pilihan yang sangat sulit, sampai saya sempat berpikir, lebih baik saya saja yang mati duluan supaya tidak harus memilih, tapi kalau saya tidak ada, siapa yang akan merawat salah satu dari mereka sewaktu salah satunya tidak ada lagi ?

Pemikiran seperti ini sempat saya tekan dalam2, saya tumpuk dengan ego dan rasa2 lainnya,bahkan sempat terlupakan, sampai satu kali saya 'pulang' dan melihat ayah dan ibu saya semakin tua, pemikiran itu diam2 kembali, bersama2 dengan rasa ketakutan dan itu membuat saya 'mengharuskan' diri untuk mulai mengalah dan mulai mendengar kata2 orang tua saya dan tidak lagi menjadi anak yang 'susah diatur'.

Saya tahu saya tidak akan pernah bisa memilih dan saya tidak akan pernah mau memilih, deep down inside, saya tahu kalau saya cinta dan sayang dan memerlukan keduanya, saya tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan salah satu atau kedua orang tua, saya hanya bisa menebak2 kalau rasanya akan amat sangat menyakitkan, ada teman saya yang sudah lama kehilangan ayahnya (walau dia termasuk anak yang tidak akur juga) sampai sekarang masih sering menitikkan air matanya diam2 ketika dia teringat ayahnya dan tak habis2nya menyesali segala tingkah lakunya atau apa yang belum sempat dia berikan dan lakukan untuk orang tuanya atau kemarahan seorang teman saya sewaktu dia menilai saya keterlaluan terhadap orang tua saya, saya masih ingat apa yang dia ucapkan waktu itu, "Kamu seharusnya merasa sangat beruntung masih memiliki orang tua, kamu tidak tahu betapa inginnya aku dimarahi lagi seperti itu" dan waktu itu ucapannya membuat saya terpaku, saya tidak ingin menyesal seperti itu, jadi saya 'mengharuskan' diri untuk mulai menghitung berkat yang masih diberikan kepada saya.

Saya cuma berharap, ketika waktu itu datang, semoga saya sudah siap menghadapinya, semoga saya sudah tahu apa yang harus diperbuat, semoga saya tidak lagi menyesali apa yang belum sempat saya lakukan dan berikan kepada mereka, semoga saya bisa menjalani kelanjutan hidup, semoga...

Ma, Pa, saya akan pulang dan memeluk kalian erat erat ..

PS. posting ini khusus saya tulis buat Fahrie, perihmu ikut terasa disini Rie, terima kasih untuk sudah 'mengingatkan' saya, saya yakin beliau bangga mempunyai anak seperti kamu. Selamat jalan Pak Haris Bundu...

# balik ke atas#