Kisah di hari Minggu
Bangunan berlantai dua ini sempat menjadi tempat tinggal keluarga de Klerk yang menjabat sebagai gubernur jenderal Belanda pada 1777, lantai atasnya untuk tempat tinggal keluarga sementara lantai dasar dipakai sebagai kantor urusan pemerintahan, bagian kanan kiri rumah induk menjadi tempat menginap tetamu yang bermalam, di belakang rumah tamu terdapat pavilium berlantai dua untuk gudang dan tempat tinggal budak yang dulu di beli de Klerk dari Bali dan Makassar dan budak 'impor' dari India atau Afrika.
Gedung ini memiliki sejarah panjang, sepeninggalan de Klerk, rumah ini menjadi peninggalan Radermacher yang membangun banyak gedung2 bersejarah di Jakarta dan Bandung, beralih ke W.A. Alting yang menghuni gedung ini selama 31 tahun lamanya, terus berpindah tangah, sempat juga menjadi rumah yatim piatu yang dikelola College van Diakenen selama 50 tahun, hampir saja dibongkar habis namun diselamatkan oleh konservator dari lembaga kesenian dan ilmu pengetahuan Batavia, tahun 1925 setelah dipakai sebagai kantor dinas pertambangan, akhirnya pemerintah memutuskan untuk menjadikannya Landsarchief alias Arsip Negara dan resmi menjadi Gedung Arsip Nasional dari tahun 1961 sampai sekarang.
Cukup tentang sejarah gedung ini, sekarang cerita kenapa sampai saya sampai di gedung ini :d. Sesuai posting HFHC yang menjadi penyebab saya sampai di gedung ini, berjalan pelan di halaman dengan air mancur di tengahnya, sampai ke depan pintu, membayar tiket yang potongannya ditukar dengan roti buaya isi cakhlet (hehe..) berjalan dari ruang ke ruang dengan banyak jendela besar sambil mengamati foto2 Jakarta tempo dulu untuk kemudian sampai di taman tengah gedung, orang2 berseliweran, berkeliling sisi dalam gedung dengan diiringi lagu2 tempo dulu yang dimainkan oleh keroncong tugu 'Cafrinho' seakan membawa saya ke jaman dulu, sampai ke bagian belakang gedung, tempat makanan jamdul dijual, ada macam2 kue jaman dulu, ada nasi ulam, ada nasi kebuli, ada lontong capgomeh, es cincau, bir pletok,macam2 buah langka walau tidak selengkap yang dipromosikan,kroket, schotel dll2, yang menarik perhatian saya, ada tukang kue rangi, kue jaman SD dulu, jadi tukar uang dulu menjadi kupon 1000 dan 5000, trus antri beli kue rangi, keliling2, perhatian tertambat pada potongan schotel, enak neeh kayaknya :D jadi saya beli sepotong, menikmati potongan itu perlahan lahan,mmmm...enak...:d, jadi ingat buatan oma, hhhhh..:( sementara ada 1 orang mundar mandir di depan saya sambil melirik, pada kali ke 3 dia lewat di depan saya, tercetus juga pertanyaannya,"Eh numpang tanya dong, beli schotel dimana sih? " sambil nyengir saya menunjukkan standnya sambil dalam hati bilang, ooo mo nanya aja pakai mundar mandir 3 kali, hahaha..., setelah itu naik ke salah satu sisi lantai ke dua, dari atas sana, sambil menikmati angin semilir, saya memperhatikan orang2 yang terus berdatangan.
12.30, ada sms dari pemilik tatto matahari yang bilang dia sudah ada di gedung arsip, turun, ada sesosok berkaus grifindor dan rok jeans pudar berjalan setengah berlari menyapa seseorang, dalam hati berpikir, itukah si tatto matahari, jadi dibiarkan saja, hehe..dia menghilang dikeramaian, ada sms lagi baru sosok tadi mendatangi saya, setengah bingung waktu disapa, dan pelukan eratnya mengawali pertemuan pertama kami. Nona satu ini mirip kelinci batere XXX yang tidak mengenal jeda, omongannya, cara berjalannya,sementara saya terkagum2 melihatnya, dia sempat antri demi dua gelas lipton tea di tengah panasnya hari, hehee.., cape berdiri, terdampar di depan toilet sambil menunggu yang lain, gak lama pasangan pemilik Titian Alam datang menyusul, rasanya cengiran lebar itu sudah saya kenal sebelumnya deh,datang2 yg ditanya duluan, "Dimana tempat bir pletoknya?" hahaha.., ber 4 keliling lagi di tempat orang berjualan makanan, setiap tempat orang ngantri bak 'ular naga panjangnya bukan kepalang' untuk kemudian nona Rembulan bergabung, nona tatto matahari sibuk membeli wajik dengan alasan 'sudah lama gak pernah ketemu wajik' hahaha.. sampai akhirnya terdampar di tempat bir pletok yang diberi es, benar2 minuman yang menyegarkan di siang yang panas itu. Cari tempat duduk penuh, akhirnya kami ber 5 piknik di taman beralaskan rumput deh :p, kemudian bekal masing2 dibuka, serasa piknikk sekaleeee deh pokoke...
Acara demi acara, mulai dari tabla India disambung barongsai yang sangat menarik ditayangkan di tengah2 taman, sampai pindah ke meja dan disitu sempat ada satu orang yang terbengong2 waktu pemuda incarannya saya kenalkan tiba2 soalnya agak gimana gitu, beraninya ngomong doangan sih, kekeke...(*kdibh2 ke yang merasa ah ;) )dan baru bisa makan-siang-yang-telat-banget sambil nonton silat Betawi dan wayang golek
Rasanya ingin terus ada disitu sampai acaranya habis, tapi berhubung sudah ada janji lain, saya harus memisahkan diri terlebih dahulu, pamit berdua nona Rembulan yang sampai di depan baru ingat kalau dia belum menguangkan kembali kupon yang sudah dibeli, kami berpisah.Di depan gedung itu, saya menoleh kembali, sungguh hari yang menyenangkan :)
Untuk pemilik tatto matahari,pasangan Titian Alam,Rembulan, thanks for the lovely afternoon :)
