<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/4124261?origin\x3dhttp://minyak-kayuputih.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Ja ja ja

I don't know what I'm becoming. But I know for sure , U wouldn't like me when I'm angry

Monday, September 06, 2004

Asbak

Ini salah satu cerita lucu yang terjadi setelah 'konsolidasi' antara orang tua dan saya terjadi, hehe..

Jadi, ada semacam konsolidasi, yaa.. boleh dibilang semacam kesepakatan damailah antara orang tua dan saya, jadi hari Minggu kemarin, mereka yang gantian berkunjung ke Bogor.

Papa dan Mama (panggilan saya untuk mereka) datang, tentunya sebelum datang, saya harus sedikit 'kerja bakti' menyingkirkan segala macam benda dan bukti yang kurang lebih bisa memancing pertengkaran toh? hehe.., dan waktu mereka datang, rumah sudah rapi, dan cukup pantas gitu deh. Mula2nya mereka duduk, mama langsung ke dapur melihat koleksi alat2 masak saya, sedang papa duduk di beranda melihat koleksi pohon jeruk saya, dia juga mengkoleksi pohon jeruk di rumahnya yang salah satunya menjadi korban cabutan saya untuk mengubur bino anjing saya itu :d trus papa duduk lagi di ruang tamu, tepatnya lesehan deh, karena gak ada sofa atau semacamnya di rumah saya, sistimnya (ceritanya) ala jepang gitu, pakai tikar lampit yang saya bawa dari Kalimantan, dengan meja pendek persegi di tengahnya, nah ketika saya lihat papa mulai menyalakan cangklongnya, saya mencari asbak, tanpa ingat lagi kalau ternyata asbak itu memiliki sejarah yang panjang, saya meletakkan asbak itu di hadapannya. Papa mulainya tidak memperhatikan, tapi lama kelamaan perhatiannya jadi ke asbak yang ada di meja, mula2 dilihat, terus dipegang, dibulak balik, terus keluar deh ucapan, "Ini seperti asbak papa yang hilang deh", katanya sambil memandang saya yang lagi asik menyumpahi kebodohan sendiri dalam hati, "Iya kan dien? ini asbak papa yang kamu bilang hilang dulu itu kan? " , akhirnya dengan rasa setengahgakrelasetengahempet saya mengangguk juga, "Iya pa, itu asbak papa yang dulu dien bilang ilang", beliau mengangguk, "Kog pecah dan bekas disambung gini sih? ", pikiran saya jadi kembali ke beberapa tahun silam, tepatnya sebelum saya pindah ke rumah yang di Bogor ini(untuk catatan saja, rumah ini milik pribadi, 100%, tidak ada unsur sumbangan orang tua sama sekali di dalamnya, hehe..somse mode: off) sore itu, papa pulang dengan asbak yang ada di depannya sekarang ini, bagus sih, bentuk siput gitu, saya masih ingat dia bilang dia mendapat asbak itu dengan harga murah, terus selama berhari hari asbak itu ada di meja, sampai anak2 gromsiber Bandung datang, dan saya meminjam asbak itu, dan waktu mereka sedang 'bergulat' dengan bino, salah satu dari mereka menendang asbak itu, dan asbak itu pecah jadi 8 bagian. Semua pucat, semua kaget, semua shock mengingat benda itu bukan milik sendiri tapi milik papa yang mereka tau bisa jadi sangat galak, hehe.., mau saling menyalahkan sudah pecah, jadi yang ada, kami hunting asbak seperti itu sekeliling Jakarta dan waktu balik jam 2 pagi, ngga dapat satu juga. Kepingan2 asbak itu, saya simpan di kamar, selama beberapa hari papa tidak sadar kalau asbaknya tidak ada di meja, sementara saya berhasil menyatukan asbak itu dengan power glue, tentu saja gak seperti aslinya, dan akhirnya asbak itu saya satukan dengan benda2 lainnya di peti tempat saya menyimpan barang2 aneh lainnya. Waktu papa sadar asbaknya tidak di tempatnya lagi, saya cuma mengangkat bahu waktu dia menanyakan kemana asbaknya,"Tau deh, dien gak lihat tuh, ilang kali" dan akhirnya asbak itu terlupakan juga.

Sekarang asbak sambungan itu ada di hadapannya, setelah bertahun2 menghilang. Asbak itu saya temukan waktu membuka peti di rumah bogor, dan akhirnya jadi asbak kesayangan saya biar bentuknya sudah penuh sambungan power glue, akhirnya setelah bertahun2, saya harus mengaku salah, jadi saya ceritakan kronologi kejadiannya sampai asbak itu pecah, "dien sambung lagi pakai power glue pa, dan itu yang menemani dien di sini", kata saya sambil menunduk memperhatikan motif tikar kalimantan, papa bangun , menghampiri saya, tanpa bilang apa2, dia memeluk kepala saya, "Ya sudah, gak apa2 kog, tapi kamu simpan asbak itu, bukan artinya kamu merokok kan?"

....

sstt...jangan bilang papa saya ya kalau saya merokok ;)

:d
# balik ke atas#