Fatahillah - Wayang - Keramik - Prasasti
Ok, sedari nulis tentang Monas kemaren, gue jadi pingin nulis tentang tempat tempat lainnya di Jakarta ini. Sebagian besar dari catatan yang Aries sempat tulis, trus ditambah yang gue tau, dan akhirnya dilengkapi dengan berbagai informasi tambahan dari majalah, surat kabar dan internet. Hitung hitung as a memorial service buat Aries
Kali ini , gue pingin cerita tentang Museum Fatahillah – Museum Wayang – dan Museum Seni Rupa dan Keramik yang terletak di satu lokasi, bayangin aja kita lagi jalan jalan yah, kita perlu waktu sekitar 1 hari kalau mau melihat dengan jelas…
Tulisan ini akan dibagi jadi 3 bagian yah...
So what are we waiting for ? Let’s start…:)
Jika kita berada di daerah kota, yang sering mengunjungi Mangga dua atau Harco, coba deh sekali kali melewati daerah kota, setelah kawasan Glodok, kita akan sampai di satu kawasan yang sekelilingnya merupakan barisan bangunan bangunan tua yang ada dari jaman Belanda dulu, termasuk juga Stasiun Jakarta Kota, kalau kita berjalan lagi, maka kita akan sampai di suatu taman, taman Fatahillah namanya (nama kamu sapa…lho..gak nyambung, kekeke…), di sekliling taman itu , terletaklah 4 bangunan bersejarah, yang kalau diurut urut, merupakan bagian dari sejarah awalnya kota Jakarta ini :)
Bangunan yang pertama tama akan kita datangi adalah bangunan megah yang bernama Museum Sejarah Jakarta , atau lebih kita kenal dengan nama Museum Fatahillah, Bangunan yang dulunya merupakan Stadhuis (Balai Kota) Batavia tersebut, banyak menyimpan pesona.Dari segi fisik bangunannya memiliki daya tahan luar biasa. Bayangkan saja, bangunan itu peletakan batu pertamanya dilakukan 25 Januari 1707 oleh Petronella Wilhelmina van Hoorn (8) putri Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu van Hoorn. Berarti bangunan itu berumur hampir 300 tahun, dan masih utuh hingga sekarang. Kayu-kayunya belum lapuk, apalagi dinding betonnya masih kokoh hingga saat ini.Pintu bagian depan, masih menampakkan keangkuhannya. Terbuat dari kayu jati tebal sekitar 10 sentimeter, dan tinggi lebih dari tiga meter. Dicat berwarna merah menyala, pintu tersebut tampak kokoh dan berwibawa.. Sementara itu ketika memasuki bagian dalam gedung, tampak anggun tetapi sederhana. Hanya anak tangga menuju lantai dua yang terkesan mewah. Anak tangga tersebut dicat berwarna merah dan dihiasi singa berukir di bagian bawahnya. Seluruh lantai dari museum ini terbuat dari kayu.
Gedung museum ini adalah bekas bangunan Stadhuis (balaikota) yang didirikan pada 1710, dipakai sebagai balaikota Batavia sampai akhir abad ke-19 . Pada awal abad ke-20, gedung ini dipakai sebagai kantor gubernur Jawa Barat sampai dengan Maret 1942. Ketika bala tentara Nippon menguasai Pulau Jawa, gedung ini dipakai sebagai perkantoran militer dan sesudah 1945 sebagai kantor tentara sekutu. Sejak awal tahun 50-an, gedung ini dipakai sebagai bangunan kantor angkatan darat, khususnya Kodim 0503, sampai diambil alih oleh Pemda DKI Jakarta untuk dijadikan museum sejarah 1974
Di bagian bawah gedung, tersimpan puluhan koleksi berharga. Mulai dari batu-batuan zaman neolitikum dan peninggalan Kerajaan Purnawarman, hingga uang perak dan timbangan barang zaman Portugis.
Di bagian atas gedung, tersimpan puluhan koleksi barang-barang furniture. Kursi jati berumur ratusan tahun, meja pertemuan zaman Belanda, lemari arsip zaman VOC, tempat tidur raksasa, hingga kursi santai dan cermin kuno semua tersedia. Bahkan lukisan kayu yang menggambarkan keadilan Raja Sulaeman (Solomon) masih terpelihara dengan baik.
Di bagian belakang dari museum ini , akan kita jumpai ruangan penjara yang pernah dipakai dulunya, Begitu kita berdiri di depan pintu penjara ini, gue bisa jamin kalian pasti bakalan merinding. Coba bayangkan saja, ruangan itu berbentuk setengah lingkaran, gelap, pengap, dan terletak di bagian bawah gedung tua berumur 300 tahun yang dibangun tahun 1707. Seluruh dindingnya terbuat dari tembok beton dan hanya di bagian depan terdapat jendela kecil dengan jeruji besi yang sangat kekar. Merindingness ini bakalan bertambah waktu kita melihat puluhan bola besi seukuran bola voli. Beratnya ditaksir sekitar 100 kilogram, sehingga didorong pun sangat sulit bergerak dari tempatnya. Bola-bola besi itulah yang diikatkan pada kaki para tahanan pada zaman VOC dulu. Kebayang kan cerita Donal Bebek? Nah ini bolanya sebesar bola volley dan berat, kan kesannya jadi ngga lucu lagi, lebih gak lucu lagi kalau kita yang diikat , hehe….dan yang pingin punya kenangan memakai bola besi ini bisa aja sih masuk ke ruangan itu, trus masang ke kaki, trus dipotret, cuma jangan nyesel yah kalau tiba tiba ngga bisa dilepasin lagi, kekekeke….Selain kaki diikat bola besi, para tahanan itu dikurung dalam ruangan pengap, gelap, dan tanpa ventilasi udara. Jumlah tahanannya tidak tanggung-tanggung, bisa sekitar 80 orang di dalam ruangan pengap berukuran sekitar delapan meter dan lebar tiga meter. Salah satu tahanan yang pernah menghuni ruangan ini adalah Pangeran Diponegoro, yang terlibat perang pada tahun 1825 – 1830, sebelum akhirnya beliau dibuang ke Sulawesi Utara sampai pada akhir hayatnya. Namun, lewat penjara bawah tanah tersebut, bisa terbayang kekejaman Pemerintah kolonial Belanda dulu. Apalagi menurut bukti-bukti sejarah, bukan hanya perampok, garong, atau maling yang sempat menghuni penjara seram tersebut, tetapi mantan Gubernur Jenderal Belanda di Sri Lanka, Petrus Vuyst, pernah juga disekap dalam ruangan pengap tersebut. Penyebabnya bukan karena memberontak tetapi karena mengidap penyakit gila.Namun yang lebih kejam lagi, seusai pemberontakan Cina di Batavia tahun 1740, sekitar 500 orang Cina disekap dalam ruangan sempit itu. Setiap hari para tahanan yang kurus kering itu cuma diberi nasi encer dan air tawar. Selanjutnya satu per satu orang Cina tersebut dikeluarkan dan dihukum mati dengan cara digantung di alun-alun depan Gedung Museum Sejarah Jakarta sekarang.Tak heran jika dalam buku Oud Batavia, Dr F De Haan menyebut ruangan pengap tersebut sebagai lorong gelap (donker gat). Bahkan dia menulis,Wie op kippevel gesteld is, moet hier zijn ("Siapa ingin merinding, harus datang ke sini...")
Ada lagi bagian lain di depan museum ini, yang sekarang ditutup, yaitu penjara air, penjara ini tingginya kurang lebih 1.5 m yang setengahnya berisi air, ruangan ini dipakai untuk menghukum orang yang menolak bekerja sama dengan Belanda, dan dulunya penjara air ini berisi lintah hidup, yang asik asik aja menghisap darah orang orang yang menjadi penghuni tempat ini, cobaaa bayangin, apa ngga bakalan nangis ala Bombay kalo sampai dikurung di tempat ini ? hehe…
Ruangan pengap semacam itu terdapat lima unit dan masih utuh, serta bisa disaksikan hingga sekarang di bagian bawah gedung Museum Fatahillah atau Museum Sejarah Jakarta. Sebagai salah satu objek tontonan para pengunjung museum, pelajar, dan keluarga yang sedang berwisata.
Sekarang mari kita bercerita tentang tokoh tokoh angker di Museum ini, masih ingat cerita gue tentang bunyi langkah kaki itu? Konon, Jan Pieter Zoen Coen yang dulu berdiam paling lama di tempat ini, masih suka berkeliaran , dari cerita penjaga museum, kadang dia bisa melihat tokoh yang berjalan tanpa kepala, atau kadang hanya terdengar langkah kaki yang berjalan di lantai kayu gedung Museum ini, hiii…..
Sekarang koleksi Museum Fatahillah ini ditambah dengan adanya patung Dewa Hermes yang tadinya terletak di perempatan Harmoni dan meriam Si Jagur yang tadinya terletak di luar museum atau lebih tepatnya ada diantara kafe Batavia dan bangunan kantor pos Kota, hanya karena dipandang tidak terpelihara alias terlantar, makanya sekarang dipindahkan. Meriam Si Jagur ini juga menarik lho, meriam Portugis tua ini mempunyai tulisan latin di badannya yaitu : Ex Me Ipsa Renata Sum (I am reborn FROM myself). Asal usul tepatnya tidak diketahui, tapi konon ada kepercayaan apabila meriam Si Jagur ini bertemu dengan saudaranya yang ada di kota Medan hanya ukurannya lebih kecil, katanya, pulau Jawa akan tenggelam, hehe…Banyak orang percaya kalau si Jagur ini juga mempunyai kekuatan mistik, lambang yang ada di bagian belakangnya merupakan lambang yang dianggap ‘porno’, dan konon, wanita yang menginginkan untuk mempunyai anak, meletakkan bunga, rokok, kopi dan lain lain, diikuti dengan cara cara ‘tertentu’, bisa dikarunia anak.
Okeh, selesai kunjungan kita di Museum Fatahillah, mari kita sekarang berjalan di tengah tengah taman Fatahillah …mari….:)
Sekitar tahun 1743, ketika di Batavia dibangun jaringan pipa water leiding (air minum), di bagian depan dibuat air mancur yang boleh jadi air mancur pertama di Batavia. Karena itu tidak mengherankan pada sore hari, air mancur tersebut selalu menjadi tontonan masyarakat. Sayang, air mancur tersebut kemudian rusak dan sekarang yang ada cuma sebentuk lubang dengan bentuk kubah, sebagai sumber air minum dimasa itu, maka tempat ini merupakan tempat penting, tapi ini juga merupakan kelemahan dari sisi Belanda, Sultan Agung yang punya ulah waktu itu, dia mengotori sumber air ini dengan kotoran manusia, kekeke…jadi aja waktu itu banyak orang Belanda yang menjadi korban, sakit kolera, termasuk diantaranya si gubernur jendral Belanda yang terkenal paling kejam yaitu Jan Pieter Zoen Coen,hehehe..jadi kejam sih boleh kejam, tapi gak kebal sama kolera tuh...:D
Masih ingat cerita ratusan orang Cina yang dihukum gantung? Nah letak tiang tiang gantungan ini ditandai dengan tiang tiang lampu hias yang terletak mengelilingi taman ini, hehe.., dan dulunya tempat ini juga dipakai sebagai tempat berlatih tentara tentara Belanda dulunya.
Kalau kebetulan kita ada disana, cobalah melihat sekeliling tempat ini, biasanya di bawah satu pohon, ada seorang bapak tua yang menjual akar akaran obat, dia menghampar dagangannya itu diatas selembar plastik, kita bisa melihat macam macam umbi umbian aneh, gue pernah hitung, ada sekitar 60 macam umbi umbi yang konon masing masing punya khasiat sebagai jamu, dan jangan kuatir, bapak itu sangat bersedia untuk menjelaskan satu satu manfaat dari akar akaran itu, trus jangan lupa, beliin bapak itu sebungkus rokok kretek, dia akan membayar hadiah itu dengan ramalan, dannnn…ramalan bapak itu, bisa dibilang 80% pas…:)
to be continued....
Kali ini , gue pingin cerita tentang Museum Fatahillah – Museum Wayang – dan Museum Seni Rupa dan Keramik yang terletak di satu lokasi, bayangin aja kita lagi jalan jalan yah, kita perlu waktu sekitar 1 hari kalau mau melihat dengan jelas…
Tulisan ini akan dibagi jadi 3 bagian yah...
So what are we waiting for ? Let’s start…:)
Jika kita berada di daerah kota, yang sering mengunjungi Mangga dua atau Harco, coba deh sekali kali melewati daerah kota, setelah kawasan Glodok, kita akan sampai di satu kawasan yang sekelilingnya merupakan barisan bangunan bangunan tua yang ada dari jaman Belanda dulu, termasuk juga Stasiun Jakarta Kota, kalau kita berjalan lagi, maka kita akan sampai di suatu taman, taman Fatahillah namanya (nama kamu sapa…lho..gak nyambung, kekeke…), di sekliling taman itu , terletaklah 4 bangunan bersejarah, yang kalau diurut urut, merupakan bagian dari sejarah awalnya kota Jakarta ini :)
Bangunan yang pertama tama akan kita datangi adalah bangunan megah yang bernama Museum Sejarah Jakarta , atau lebih kita kenal dengan nama Museum Fatahillah, Bangunan yang dulunya merupakan Stadhuis (Balai Kota) Batavia tersebut, banyak menyimpan pesona.Dari segi fisik bangunannya memiliki daya tahan luar biasa. Bayangkan saja, bangunan itu peletakan batu pertamanya dilakukan 25 Januari 1707 oleh Petronella Wilhelmina van Hoorn (8) putri Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu van Hoorn. Berarti bangunan itu berumur hampir 300 tahun, dan masih utuh hingga sekarang. Kayu-kayunya belum lapuk, apalagi dinding betonnya masih kokoh hingga saat ini.Pintu bagian depan, masih menampakkan keangkuhannya. Terbuat dari kayu jati tebal sekitar 10 sentimeter, dan tinggi lebih dari tiga meter. Dicat berwarna merah menyala, pintu tersebut tampak kokoh dan berwibawa.. Sementara itu ketika memasuki bagian dalam gedung, tampak anggun tetapi sederhana. Hanya anak tangga menuju lantai dua yang terkesan mewah. Anak tangga tersebut dicat berwarna merah dan dihiasi singa berukir di bagian bawahnya. Seluruh lantai dari museum ini terbuat dari kayu.
Gedung museum ini adalah bekas bangunan Stadhuis (balaikota) yang didirikan pada 1710, dipakai sebagai balaikota Batavia sampai akhir abad ke-19 . Pada awal abad ke-20, gedung ini dipakai sebagai kantor gubernur Jawa Barat sampai dengan Maret 1942. Ketika bala tentara Nippon menguasai Pulau Jawa, gedung ini dipakai sebagai perkantoran militer dan sesudah 1945 sebagai kantor tentara sekutu. Sejak awal tahun 50-an, gedung ini dipakai sebagai bangunan kantor angkatan darat, khususnya Kodim 0503, sampai diambil alih oleh Pemda DKI Jakarta untuk dijadikan museum sejarah 1974
Di bagian bawah gedung, tersimpan puluhan koleksi berharga. Mulai dari batu-batuan zaman neolitikum dan peninggalan Kerajaan Purnawarman, hingga uang perak dan timbangan barang zaman Portugis.
Di bagian atas gedung, tersimpan puluhan koleksi barang-barang furniture. Kursi jati berumur ratusan tahun, meja pertemuan zaman Belanda, lemari arsip zaman VOC, tempat tidur raksasa, hingga kursi santai dan cermin kuno semua tersedia. Bahkan lukisan kayu yang menggambarkan keadilan Raja Sulaeman (Solomon) masih terpelihara dengan baik.
Di bagian belakang dari museum ini , akan kita jumpai ruangan penjara yang pernah dipakai dulunya, Begitu kita berdiri di depan pintu penjara ini, gue bisa jamin kalian pasti bakalan merinding. Coba bayangkan saja, ruangan itu berbentuk setengah lingkaran, gelap, pengap, dan terletak di bagian bawah gedung tua berumur 300 tahun yang dibangun tahun 1707. Seluruh dindingnya terbuat dari tembok beton dan hanya di bagian depan terdapat jendela kecil dengan jeruji besi yang sangat kekar. Merindingness ini bakalan bertambah waktu kita melihat puluhan bola besi seukuran bola voli. Beratnya ditaksir sekitar 100 kilogram, sehingga didorong pun sangat sulit bergerak dari tempatnya. Bola-bola besi itulah yang diikatkan pada kaki para tahanan pada zaman VOC dulu. Kebayang kan cerita Donal Bebek? Nah ini bolanya sebesar bola volley dan berat, kan kesannya jadi ngga lucu lagi, lebih gak lucu lagi kalau kita yang diikat , hehe….dan yang pingin punya kenangan memakai bola besi ini bisa aja sih masuk ke ruangan itu, trus masang ke kaki, trus dipotret, cuma jangan nyesel yah kalau tiba tiba ngga bisa dilepasin lagi, kekekeke….Selain kaki diikat bola besi, para tahanan itu dikurung dalam ruangan pengap, gelap, dan tanpa ventilasi udara. Jumlah tahanannya tidak tanggung-tanggung, bisa sekitar 80 orang di dalam ruangan pengap berukuran sekitar delapan meter dan lebar tiga meter. Salah satu tahanan yang pernah menghuni ruangan ini adalah Pangeran Diponegoro, yang terlibat perang pada tahun 1825 – 1830, sebelum akhirnya beliau dibuang ke Sulawesi Utara sampai pada akhir hayatnya. Namun, lewat penjara bawah tanah tersebut, bisa terbayang kekejaman Pemerintah kolonial Belanda dulu. Apalagi menurut bukti-bukti sejarah, bukan hanya perampok, garong, atau maling yang sempat menghuni penjara seram tersebut, tetapi mantan Gubernur Jenderal Belanda di Sri Lanka, Petrus Vuyst, pernah juga disekap dalam ruangan pengap tersebut. Penyebabnya bukan karena memberontak tetapi karena mengidap penyakit gila.Namun yang lebih kejam lagi, seusai pemberontakan Cina di Batavia tahun 1740, sekitar 500 orang Cina disekap dalam ruangan sempit itu. Setiap hari para tahanan yang kurus kering itu cuma diberi nasi encer dan air tawar. Selanjutnya satu per satu orang Cina tersebut dikeluarkan dan dihukum mati dengan cara digantung di alun-alun depan Gedung Museum Sejarah Jakarta sekarang.Tak heran jika dalam buku Oud Batavia, Dr F De Haan menyebut ruangan pengap tersebut sebagai lorong gelap (donker gat). Bahkan dia menulis,Wie op kippevel gesteld is, moet hier zijn ("Siapa ingin merinding, harus datang ke sini...")
Ada lagi bagian lain di depan museum ini, yang sekarang ditutup, yaitu penjara air, penjara ini tingginya kurang lebih 1.5 m yang setengahnya berisi air, ruangan ini dipakai untuk menghukum orang yang menolak bekerja sama dengan Belanda, dan dulunya penjara air ini berisi lintah hidup, yang asik asik aja menghisap darah orang orang yang menjadi penghuni tempat ini, cobaaa bayangin, apa ngga bakalan nangis ala Bombay kalo sampai dikurung di tempat ini ? hehe…
Ruangan pengap semacam itu terdapat lima unit dan masih utuh, serta bisa disaksikan hingga sekarang di bagian bawah gedung Museum Fatahillah atau Museum Sejarah Jakarta. Sebagai salah satu objek tontonan para pengunjung museum, pelajar, dan keluarga yang sedang berwisata.
Sekarang mari kita bercerita tentang tokoh tokoh angker di Museum ini, masih ingat cerita gue tentang bunyi langkah kaki itu? Konon, Jan Pieter Zoen Coen yang dulu berdiam paling lama di tempat ini, masih suka berkeliaran , dari cerita penjaga museum, kadang dia bisa melihat tokoh yang berjalan tanpa kepala, atau kadang hanya terdengar langkah kaki yang berjalan di lantai kayu gedung Museum ini, hiii…..
Sekarang koleksi Museum Fatahillah ini ditambah dengan adanya patung Dewa Hermes yang tadinya terletak di perempatan Harmoni dan meriam Si Jagur yang tadinya terletak di luar museum atau lebih tepatnya ada diantara kafe Batavia dan bangunan kantor pos Kota, hanya karena dipandang tidak terpelihara alias terlantar, makanya sekarang dipindahkan. Meriam Si Jagur ini juga menarik lho, meriam Portugis tua ini mempunyai tulisan latin di badannya yaitu : Ex Me Ipsa Renata Sum (I am reborn FROM myself). Asal usul tepatnya tidak diketahui, tapi konon ada kepercayaan apabila meriam Si Jagur ini bertemu dengan saudaranya yang ada di kota Medan hanya ukurannya lebih kecil, katanya, pulau Jawa akan tenggelam, hehe…Banyak orang percaya kalau si Jagur ini juga mempunyai kekuatan mistik, lambang yang ada di bagian belakangnya merupakan lambang yang dianggap ‘porno’, dan konon, wanita yang menginginkan untuk mempunyai anak, meletakkan bunga, rokok, kopi dan lain lain, diikuti dengan cara cara ‘tertentu’, bisa dikarunia anak.
Okeh, selesai kunjungan kita di Museum Fatahillah, mari kita sekarang berjalan di tengah tengah taman Fatahillah …mari….:)
Sekitar tahun 1743, ketika di Batavia dibangun jaringan pipa water leiding (air minum), di bagian depan dibuat air mancur yang boleh jadi air mancur pertama di Batavia. Karena itu tidak mengherankan pada sore hari, air mancur tersebut selalu menjadi tontonan masyarakat. Sayang, air mancur tersebut kemudian rusak dan sekarang yang ada cuma sebentuk lubang dengan bentuk kubah, sebagai sumber air minum dimasa itu, maka tempat ini merupakan tempat penting, tapi ini juga merupakan kelemahan dari sisi Belanda, Sultan Agung yang punya ulah waktu itu, dia mengotori sumber air ini dengan kotoran manusia, kekeke…jadi aja waktu itu banyak orang Belanda yang menjadi korban, sakit kolera, termasuk diantaranya si gubernur jendral Belanda yang terkenal paling kejam yaitu Jan Pieter Zoen Coen,hehehe..jadi kejam sih boleh kejam, tapi gak kebal sama kolera tuh...:D
Masih ingat cerita ratusan orang Cina yang dihukum gantung? Nah letak tiang tiang gantungan ini ditandai dengan tiang tiang lampu hias yang terletak mengelilingi taman ini, hehe.., dan dulunya tempat ini juga dipakai sebagai tempat berlatih tentara tentara Belanda dulunya.
Kalau kebetulan kita ada disana, cobalah melihat sekeliling tempat ini, biasanya di bawah satu pohon, ada seorang bapak tua yang menjual akar akaran obat, dia menghampar dagangannya itu diatas selembar plastik, kita bisa melihat macam macam umbi umbian aneh, gue pernah hitung, ada sekitar 60 macam umbi umbi yang konon masing masing punya khasiat sebagai jamu, dan jangan kuatir, bapak itu sangat bersedia untuk menjelaskan satu satu manfaat dari akar akaran itu, trus jangan lupa, beliin bapak itu sebungkus rokok kretek, dia akan membayar hadiah itu dengan ramalan, dannnn…ramalan bapak itu, bisa dibilang 80% pas…:)
to be continued....
