<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/4124261?origin\x3dhttp://minyak-kayuputih.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Ja ja ja

I don't know what I'm becoming. But I know for sure , U wouldn't like me when I'm angry

Thursday, January 15, 2004

Museum Seni rupa dan Keramik

Naaah….dari museum Wayang, kita sekarang akan menyebrang lagi ke arah Stasiun Jakarta Kota, ada satu gedung yang mirip istana, dengan tiang tiang putih , kita akan mengunjungi Museum Seni Rupa dan Keramik, Jl Taman Fatahillah No. 2, Jakarta Barat.

Kita akan berada di sebuah bangunan tua yang didirikan pada tahun 1870. Pada awalnya, gedung ini diperuntukan bagi Ordinaris Raad van Justitie Binnen Het Casteel Batavia (Dewan Kehakiman pada Benteng Batavia). Semenjak tahun 1944, digunakan oleh tentara KNIL dan selanjutnya oleh TNI.

Tahun 1973-1976 dimanfaatkan sebagai Kantor Wali Kota Jakarta Barat. Pada saat yang hampir bersamaan, tepatnya tahun (974-1976, gedung ini juga dimanfaatkan oleh Pemda DK) Jakarta sebagai Kantor Dinas Museum dan Sejarah. Dalam perkembangannya, bangunan tua ini kemudian diresmikan sebagai Balai Seni Rupa Jakarta pada tahun I 976. Sejak tahun I 990 menjadi Museum Seni Rupa dan Keramik sampai sekarang.

Di Museum ini kita bisa melihat koleksi karya para pelukis dari berbagai periode. Sehingga seakan museum ini dapat bercerita tentang perkembangan seni lukis di Indonesia. Para penikmat karya-karya pelukis terkenal seperti Raden Saleh, Affandi, Basuki Abdullah, S. Sudjojono, Hendra Gunawan dan lainnya. Tidak hanya itu, lukisan karya pelukis era 80an seperti Dede Eri Supria juga menjadi koleksi museum ini.

Sesuai dengan namanya, yaitu Museum Seni rupa dan keramik, maka selain lukisan, Museum ini juga memiliki beragam koleksi berupa patung dan keramik. Di antaranya adalah patung karya perupa terkemuka Indonesia, G. Sidharta. Koleksi keramik cukup banyak dan beragam, berasal dari berbagai daerah di Nusantara. Bahkan keramik asal mancanegara seperti dari Eropa, Cina, Vietnam, Thailand dan Timur Tengah pun memenuhi ruang koleksinya Koleksi terbanyak berasal dari Cina, terutama dari masa Dinasti Ming.

Hanya saja, karena sedikit orang yang berminat untuk mengunjungi museum sepi ini, koleksi koleksinya seperti terabaikan, kurang terawat, sehingga untuk menarik perhatian para pengunjung, biasanya gedung ini juga dipakai sebagai tempat pameran keramik atau lukisan yang baru akan launching.

Gedung ini juga sempat dipakai sebagai tempat tinggal para gubernur jendral Belanda yang pernah berkuasa di Batavia dulu, sehingga kita bisa menarik garis penghubung, antara gedung ini, sebagai rumah, dengan museum Fatahillah sebagai kantor, dan museum Wayang sebagai gereja di jaman Batavia dulu.

Misteri yang terkenal di gedung ini adalah, adanya sebentuk hantu wanita yang melayang layang di halaman muka daripada gedung museum ini, yang suka terlihat apabila hari hampir senja, dan hujan turun rintik rintik….hehe….

Cape setelah mengunjungi 3 museum ini, jangan lupa mampir di Café Batavia yah…, disini, kita masih disuguhi sebentuk bangunan yang dulu memang dipakai sebagai tempat bersantai, tempat berdansa,dalam hal ini, Dinas Museum dan Pemugaran sebagai pengelola gedung gedung tua di Jakarta bekerja sama dengan pihak swasta sebagai pengelolanya, akhirnya membuka kafe ini. Jadi, dapat dikatakan, kafe museum Fatahillah merupakan pilot project untuk museum-museum lainnya yang berada di wilayah indonesia.

Kafe yang terletak di sebelah timur pintu utama museum Fatahillah Jakarta Kota ini, merupakan sarana atau pelengkap dari museum itu sendiri. Berangkat dari ide yang ingin memanfaatkan gedung tua yang berarsitektur kolonial, maka penataan interiornya pun disesuaikan yang dilengkapi dengan pernak-perniknya yang mengingatkan kita pada masa kolonial.

Interior kafe yang didominasi nuansa kayu ini, menyuguhkan suasana kolonial, sehingga bila kita berada di sini seolah-olah kita berada di Eropa.Suasana seperti ini memang sengaja dihadirkan dengan harapan dapat menjaring tamu-tamu museum, khususnya turis-turis asing, terutama mereka yang dahulu pernah menginjak bumi indonesia, Pengerjaan interior kafe ini awalnya ditangani oleh desainer interior kondang, Jaya Ibrahim. Lalu sempat tertunda lama. Kemudian awal tahun 1999 dilanjutkan oleh tim dari Integra 23.

Di Café ini, kita bisa menikmati furniture bergaya betawi, terutama pada kursi kursinya, secara keseluruhan, tidak ada material yang diganti dan tak ada perombakan, paling hanya berupa penambahan furniture bergaya betawi itu, jendela, pintu dan engselnya masih yang, warnanya pun masih warna lama. Seakan sengaja melestarikan historisnya

Bangunan yang menyatu dengan museum ini memiliki beberapa ruangan, seperti lobi, lounge area, area kafe, bar, VIP room, dan dapur umum. Untuk menambah greget suasana tempo doeloe, hampir di seluruh dinding ruangan dipenuhi foto-foto kuno masa kejayaan Belanda di Indonesia. Warna-warna yang ada pada kafe ini merupakan paduan dari beberapa etnis Eropa dan Asia, terutama dari Portugis, Belanda, dan Cina.

Sambil beristirahat, jangan lupa menikmati makanan khas café ini, yang nama namanya bernuansa betawi tempo doeloe, dipengaruhi beberapa kebudayaan seperti Cina, Arab dan Belanda, yang bisa kita lihat dari nama nama menunya seperti : portuguese steak, ong tjai ing, kwee tiaw, tuna sandwich "van zeulen", "east indies" chef's, soup "Ali Martak", sampai ikan bawal "si pitung" dan pisang goreng " Nyai Dasima" . yang gue saranin untuk dicoba itu pisang goring “Nyai Dasima”nya, hmmm….endanggg bambanggg deh bow…
Pada event-event khusus, kafe ini menyajikan traditional live music , seperti tanjidor, orkes keroncong, gambang keromong, dan aneka tarian betawi lainnya.


Naaaah…selesaaai deh jalan jalannyaa…, jadi kalau kebetulan lagi iseng dan niat buat menjadi pengunjung museum, yalah..sekali kali main ke museum kenapa? Daripada main ke mall terus…(ehmm…..semoga ada yang brasa kesindir, kekekek…) sapa tau bisa ketemu JP Coen , gue titip salam yah…

=================================================

Saya pamit lagi...

Lagi ndengerin : Addicted-nya Enrico Iglesias
Lagi mbaca : The Order of the Phoenix

Waktunya saya pergi lagi nih, sekali ini sesuai rencana yang udah pernah saya ceritain beberapa waktu yang lalu, yaitu tour anak anak sekolah.

Tour ini sudah mulai dipikirkan dari September, trus mulai dealing dengan pihak sekolah yang bersangkutan dari bulan Oktober, trus perencanaan transport, hotel, rumah makan yang akan digunakan sampai susunan tempat tempat yang akan dikunjungi, November sudah mulai mikir kira kira harus memakai berapa orang guide, yang mana guide yang dipilih haruslah yang berjiwa muda, soalnya bawa anak anak sekolah, tapi juga harus bisa menjelaskan sejarah dan segala sesuatunya dari tempat yang akan dikunjungi dengan cara tertentu supaya anak anak itu ngga bosan, dan akhirnya terpilihlah 4 orang guide, karena direncanakan seluruh peserta akan dibagi menjadi 4 rombongan.

Sudah banyak teriakan, tudingan, debat dan saling tarik urat yang dilakukan untuk tour ini, baik dengan pihak travel, atau pihak hotel, atau pihak transportasi, ataupun pihak guidenya sendiri, hehehe...jadi setelah 'jungkir balik', maka tibalah waktunya untuk dijalankan.

Saya dalam acara ini tidak akan bertindak menjadi guide, saya kali ini memilih untuk jadi runner saja, jadi semacam organizer aja, hehe...boleh dong santai dikit setelah kemaren kemaren cukup kewalahan ?

Waktu hari Senin kemaren, saya presentasi akhir di sekolah, menjelaskan sama anak anak bagaimana situasi yang kira kira akan terjadi di jalan, lalu apa apa saja yang mereka harus siapkan, menjelaskan juga kira kira seperti apa tempat tempat yang akan dikunjungi, dan rasanya mereka juga sama deg deg-annya dengan saya, walau ada sedikit yaah bisa dibilang masalah kecillah dengan guru yang tiba tiba aja jadi matre, karena minta uang saku dan juga uang buat beli oleh oleh untuk guru yang tidak ikut, tapi selain itu, okeh okeh aja tuh...:)

Jadi saya pamit lagi ya, kurang lebih sekitar 2 minggu sampai dengan akhir bulan, saya akan mulai pergi dari Jakarta hari Minggu ini, untuk menyiapkan segala sesuatunya di Surabaya dulu, untuk menyiapkan start pertama anak anak setelah menggunakan kereta api dari Jakarta nanti, trus sisa waktunya saya mau pakai untuk ke Malang, selain untuk 'bayar utang' sama 1 orang disana, hehe..saya juga punya rencana berkeliaran di bangunan bangunan tua yang masih banyak terdapat di Malang, sambil ngumpulin informasi supaya bisa bikin "Old Malang City Tour", biar kayaknya saya bakal merasa kesepian karena sekali ini harus jalan sendirian aja :( Sooo...., saya bakalan kangen banget sama kalian, tapi saya akan balik, secepatnya..., untuk yang udah janji sama saya, tolong diinget ya janjinya..hehe...

Buat yang berasa, kalau kangen atawa kalau perlu saya, u know how to contact me rite ? hehe...nomor hp saya belum berubah kog...:p

Wish me luck ok, I really need it rite now..

I'll be back (masih dengan suara Arnold Suasanasegar).

Chao luv.

# balik ke atas#