<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/4124261?origin\x3dhttp://minyak-kayuputih.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Ja ja ja

I don't know what I'm becoming. But I know for sure , U wouldn't like me when I'm angry

Tuesday, January 13, 2004

Museum Wayang - Museum Prasasti

Ok , setelah puas melihat Museum Fatahillah dan Taman Fatahillah, kita akan menyebrang jalan , ke arah sebelah kiri dari Museum Fatahillah menuju kesebuah bangunan berpintu hijau, yang gayanya mirip dengan Museum Fatahillah, yaitu Museum Wayang, Letaknya di Jalan Pintu Besar Utara Nomor 27, Jakarta Barat.

Pintu yang dipakai sebagai pintu Museum ini sama jenis dan bentuknya dengan yang ada di Fatahillah, dan di depannya, kita akan disambut bangunan yang tidak terlalu besar, yang di depannya ada loket terbuat dari kayu dengan model yang antik, kita akan mulai memasuki kawasan Museum Wayang ini, mareee….:D

Museum Wayang ini menempati bangunan yang mengalami beberapa kali perombakan, pertama kali dibangun pada tahun 1640 sebagai gereja dengan nama De Oude Hollandse Kerk. Pada tahun 1732 direnovasi dan diganti namanya menjadi De Neuw Hotlandse Kerk. Gereja ini kemudian digunakan oleh jemaah yang terdiri dari para fungsionaris penting Belanda dan keluarganya sampai tahun 1808, lalu kemudian diambil alih oleh Geo Wehry & Co, dan kemudian dijadikan gudang. Sebelum pecahnya perang dunia pertama, oleh lembaga tersebut gedung itu kemudian diserahkan kepada Stichting Oud Batavia.

Pada tanggal 22 Desember 1939 dijadikan museum dengan nama Oude Bataviasche Museum,. Yang kemudian dipindahkan ke lokasi yang sekarang menjadi Museum Fatahillah, Bangunan bekas gereja ini pernah hancur total akibat gempa yang kemudian dibangun oleh Bcrtoviasche Genootshap van Kunsten en Wetenschappen yaitu lembaga yang menangani pengetahuan dan kebudayaan Indonesia.

Pada Tahun 1957 gedung ini diserahkan kepada Lembaga Kebudayaan Indonesia dan pada tanggal 17 September 1962 diberikan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI yang selanjutnya kepada Pemerintah DKI Jakarta pada tanggal 23 Juni 1968 untuk dijadikan Museum Wayang yang peresmiannya dilakukan pada tanggal 13 Agustus 1975. oleh gubernur DKI Jakarta waktu itu Ali Sadikin

Museum yang terdiri dari 2 lantai ini memamerkan berbagai jenis dan bentuk wayang dari seluruh Indonesia, baik yang terbuat dari kayu dan kulit maupun bahan-bahan lain , Hingga kini koleksinya lebih dari 4.000 buah, terdiri atas wayang kulit, wayang golek, wayang kardus, wayang rumput, wayang janur, topeng, boneka dan , topeng kayu dari Cirebon dan juga gamelan. Umumnya boneka berasal dari Eropa. Di setiap display , dijelaskan juga secara singkat asal usul dari wayang wayang tersebut.

Ada satu penjelasan fungsi fungsi wayang, tidak lupa juga ada seperangkat lengkap gamelan yang berfungsi sebagai pengiring untuk setiap pertunjukan wayang yang diselenggarakan untuk umum setiap hari Minggu pagi.

Selain dari wayang wayang yang disimpan disitu, kalau kita menuju ke ruangan belakang dari gedung ini, kita akan sampai di suatu ruangan yang berdinding batu , take a look closer deh…, anda akan lihat kalau dinding batu itu ternyata batu batu nisan tua, ada tulisan yang tergrafir dalam bahasa Belanda disana, trus ada 4 kotak yang terbuat dari lempengan batu, pernah merhatiin ngga peti mati yang dari kayu besar kalau lagi nonton film silat ala vampire gitu ? Nah ini modelnya semacam itu, cuma terbuat dari batu, dan di kotak batu yang kedua, dulu terletak badan Jan Pieter Zoen Coen tak berkepala, nah lho….??

Jadi gini ceritanya, masih ingat kan cerita waktu Sultan Agung mencemari pusat air minum itu, trus banyak orang yang sakit Kolera dan akhirnya meninggal, nah Coen yang merupakan salah satu korban itu juga kena, dan akhirnya meninggal. Saking jahatnya, rakyat yang waktu itu ditindas oleh Coen percaya, untuk mencegah Coen ‘bangkit’ kembali dari kematiannya itu, badan dan kepalanya harus dipisahkan, jadi dipancunglah jenasah Coen, dan dikuburkan di salah satu peti batu itu deh. Badan dari Coen dikuburkan disitu, dan kepalanya dikuburkan di Museum Prasasti, jadi dipisahkan jauh, dari Jakarta Barat ke Jakarta Pusat , hehe…kesian yah si Coen itu….kekeke

Suka ada pertanyaan, kenapa dikuburin disitu, kembali lagi pada sejarah, kalau gedung itu dulunya bekas gereja, dan Coen merupakan salah satu fungsionaris Belanda yang memakai tempat itu sebagai gereja, jadi waktu dia meninggal, dikuburkan di kawasan perkuburan yang terletak di belakang gereja, getooo….:D

Tahun 1935, lembaga Coen yang datang dari Belanda, memeriksa dan mengumpulkan sisa sisa tubuh Jan Pieter Zoen Coen untuk dibawa pulang ke Belanda dari gedung yang bekas gereja itu

Gedung ini, cenderung sepi, sedikit banget yang mau datang, entah kenapa, ngga minat kayaknya, jadi agak agak ngeri kalau kita jalan menyusuri tempat tempat wayang yang diletakkan di dalam kotak kaca itu, apalagi kalau lagi melihat wayang yang dari Cina, rasanya kayak beneran, raut muka yang hidup, kaca yang kadang kadang bisa bergetar sendiri padahal ngga ada angin, hehe….

Bukan sebagai obyek rekreasi semata, di museum ini dapat dijadikan studi bagi para pelajar/peminat bahkan dapat dijadikan tempat latihan, pusat dokumentasi dan penelitian perwayangan serta dapat juga dijadikan media pengetahuan budaya antar daerah dan antar bangsa. Untuk mendukung keberadaannya, dimuseum ini secara periodik diadakan pagelaran wayang dan atraksi pembuatan wayang.

Kalau tertarik menyaksikan pertunjukan wayang, biasanya setiap hari Minggu pagi, selama 1 jam diadakan pertunjukan wayang kulit di Museum ini.

Nah, ini ada selingan museum yang letaknya ngga selokasi sama 3 museum yang gue lagi certain disini, tapi berhubungan, jadi sekalian, gue bakal ngebahas Museum Prasasti yah.

Museum Prasasti ini menempati bekas lahan pemakaman orang Belanda. Pemakamana yang bernama Kebon Jahe Kober ini, pada masa kolonial luas seluruhnya 5,5 hektar. Dibangun pada tahun 1795 sebagai pengganti pemakaman yang telah penuh yang berlokasi di samping Gereja Nieuwe Hollandse Kerk (Sekarang gedung Museum Wayang).

Makam ini dikhususkan bagi orang-orang Belanda, terutama pejabat dan tokoh-tokong penting. Setelah Indonesia merdeka, makam ini masih digunakan untuk umum, terutama yang beragama Nasrani. Sejak tahun 1975 pemakaman Kebon Jahe Kober ditutup. Selanjutnya dilakukan pemugaran dan penataan kembali prasasti-prasasti nisan terpilih. Kemudian pada tanggal 17 Juli 1977 diresmikan sebagai museum Prasasti.

Prasasti tiada lain wujud dari ungkapan perasaan. Goresan motif dan ornamen pada pahatan prasasti nisan seolah dapat bercerita tentang perasaan seseorang tentang saat ditinggal oleh kerabatnya menemui sang pencipta.

Berbagai nama tokoh, seperti tokoh pendidikan, seniman, ilmuwan, rohaniawan dan pejuang, terpahat pada koleksi Museum yang kini menempati lahan seluas 1,3 hektar itu. Tokoh bangsa Indonesia yang prasastinya ada di sini antara lain Miss Riboet (tokoh sandiwara) dan Soe Hok Gie (tokoh mahasiswa). Sementara prasasti tokoh bangsa Belanda adalah Dr. WF Stutterheim (ahli arkeologi), Dr. HF Roll (pendiri Stovia), dan JHR Kohler (tokoh Perang Aceh, dan Pieter Erberveld, Pieter Erberveld ini adalah seorang tentara Belanda yang membela orang pribumi, sehingga dia dianggap menentang pemerintahan Belanda dan akibatnya dia dihukum mati dengan cara ditarik 4 ekor kuda ke arah yang berlawanan, tempat diselenggarakannya hukuman mati itu sekarang jadi daerah yang diberi nama daerah Pecah Kulit di daerah dekat Mangga dua sana, dan kepala dari Pieter Eberveld ini ditancapkan ke sebatang tombak di halaman Gereja Sion, dan kemudian dipindahkan ke Museum Prasasti ini. Tokoh Belanda yang cukup spektakular di Museum Prasasti ini adalah Kapiten Jonker, beberapa orang juga percaya kalau dia juga bisa membantu untuk mendapatkan anak, hehe… Yang lain lain batu nisan orang biasa, seperti pendeta, atau prajurit yang juga menjadi korban waktu ada wabah kolera itu, kalau kita perhatikan kesekeliling tulisan yang ada di batu nisan mereka, kan biasanya dicantumkan tanggal lahir dan tanggal waktu mereka meninggal, dan kebanyakan dari mereka merupakan korban waktu terkena wabah serangan kolera itu, ada yang baru berumur 14 tahun, tapi ada juga yang mati tua, yang gue masih ingat tulisan di salah satu batu nisan yang ada di sana, tertulis dalam bahasa Belanda, yang kalau diterjemahkan akan berarti seperti ini, “ Saya sudah pernah mengalami apa yang anda alami sekarang, kelak, anda akan mengalami yang saya alami sekarang”,

Secara keseluruhan Museum Prasasti mengoleksi nisan tokoh-tokoh yang dimakamkan disini maupun yang dipindahkan dari tempat lain, yang berasal dari abad ke-17 sampai abad ke-19. Museum prasasti juga menampilkan miniatur makam dari 26 propinsi di nusantara.

Peti bekas jenazah Bung Karno dan Bung Hatta serta duplikat kereta jenazah sang proklamator juga menjadi koleksi museum ini. Jumlah keseluruhan koleksi yang tersimpan di Museum Prasasti sebanyak 1409 buah, terdiri dari batu nisan, bentuk tugu monumen, piala, patung, karangan bunga, kijing, lempeng batu persegi, replika dan miniatur

Kalau pernah memperhatikan salah satu video klipnya Base Jam , ada satu yang pernah dibuat di lokasi ini, kalau ngga salah yang judulnya, aku bukan bujana, eh pujangga, kekeke...:p dan dulu, ada 2 ekor rusa di Museum Prasasti ini, yang jantan mati dibunuh, tinggal yang betinanya, jalan sendirian diantara batu batu nisan, tapi sekarang dia juga sudah ngga ada.

to be continued...
# balik ke atas#